Blogroll
!doctype>
Sabtu, 28 Maret 2015
My Little Angel
Hal yang dinantikan setelah menikah tentu saja adalah mempunyai keturunan. Setiap perempuan, akan merasa menjadi wanita seutuhnya ketika mereka telah melahirkan seorang bayi dan menjadi Ibu. Begitu juga dengan saya. Setelah menikah, saya dan suami sepakat untuk tidak menunda mempunyai momongan. Biarlah kami pasrahkan semuanya kepada yang Maha Pemberi. Bila secepatnya dikasih, kami sangat bersyukur sekali. Dan jika belum, mungkin memang belum waktunya.
Memasuki bulan kedua pernikahan, Kakang sempet nanya sehabis melihat kalender, "Belum dapet lagi ya?". Saya jawab belum. Setelah menikah, Kakang yang rajin melihat kalendar untuk menghitung jadwal menstruasi saya. "Periksa yuk", ajaknya kepada saya. Tetapi saya menolak, terlalu dini untuk memeriksakan diri hanya sekedar untuk mengetahui apakah saya terlambat datang bulan karena hamil. Saya meminta untuk menunggu sampai minggu depan.
Hari Sabtu, tanggal 21 Maret 2015
Ketika Kakang belum pulang karena shift malam, pagi-pagi sekali saya sudah merencanakan untuk mengecek air kencing pertama saya dengan testpack. Dengan tangan sedikit gemetar dan perasaan yang campur aduk, garis dua muncul pada strip testpack yang saya pegang. Alhamdulillah, terima kasih Allah.
Sekitar pukul 10 pagi kakang sampai dirumah kontrakan kami. Sedikit berbincang sebentar lalu saya tersenyum sambil berbisik "aku tadi pagi udah testpack, hasilnya garis dua", saya melihat senyum bahagia diwajahnya. Senyum yang hampir belum pernah saya lihat sebelumnya. Ya, tentu saja dia sangat bahagia mengetahui ini. Tak henti dia mencium dan mengelus perut saya sembari berkata "Aa seneng banget".
Minggu, 22 Maret 2015
Sore hari kami pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan kandungan saya. Alhamdulillah ternyata sudah memasuki minggu ke 5. Dokter hanya memberikan saya vitamin karena tidak ada keluhan-keluhan yang berarti dari diri saya.
Seperti biasa, saya berangkat bekerja, memasak, menyiapkan keperluan suami. Hanya saja sekarang kami membagi dua pekerjaan rumah, seperti mencuci pakaian dan mencuci piring menjadi tugas suami sekarang. Katanya saya jangan terlalu capek.
Saya bersyukur selama memasuki kehamilan 5 minggu ini tidak banyak yang saya keluhkan. Seperti mual, muntah, ataupun tidak mau makan. Semuanya saya rasa masih normal. Saya masih mau makan nasi. Kalau pagi saya tidak pernah mual dan muntah. Dan saya rasa itu wajar, katena menurut artikel yang saya baca tingkat hormon setiap perempuan itu berbeda, dan kondisi hamilnya pun akan berbeda, tidak akan ada yang sama, itu uniknya perempuan hamil.Namun beberapa hari saya mengeluhkan kalau perut saya sering keram. Sakit seperti akan datang bulan.
Rabu 25 Maret 2015
Hari itu saya tidak masuk kerja, kepala saya sakit sehingga saya memutuskan untuk beristirahat dirumah. Saat itu kakang masuk shif siang. Sekitar pukul 11 siang saya ke kamar mandi untuk buang air kecil, betapa kagetnya saya ketika terdapat bercak darah pada urin saya. Saya berteriak memanggil kakang, dan dia meminta saya untuk tetap tenang. Saya sempat tidur siang setelah itu, namun pada saat saya buang air kecil lagi, bercak darah itu muncul lagi sehingga membuat saya panik. Saya meminta Kakang untuk tidak masuk kerja dan menemani saya dirumah. Malam hari kami pergi ke Rumah Sakit untuk memeriksakan kandungan saya.
Dokter bilang, seharusnya tidak ada keluar darah ketika hamil muda. Ini ada ancaman keguguran sehingga beliau memberikan kami resep obat penguat kandungan. Setibanya dirumah, saya langsung menangis sejadinya. Saya begitu takut terjadi sesuatu dengan calon buah hati kami. Kakang berusaha menenangkan namun tangis saya malah semakin menjadi hingga akhirnya saya tertidur.
Kamis, 26 Maret 2015
Saya masih belum masuk bekerja. Dokter memberi saya waktu untuk istirahat 3 hari dan hanya istirahat dirumah, bedrrest. Saya hanya berbaring di tempat tidur sementara kakang menyiapkan segalanya. Mulai dari sarapan, minum obat sampai memasak.
Kala itu saya sempat berdoa, "Allah, berikan yang terbaik untuk kami. Selamatkan janin yang ada dirahimku bila kelak ia akan tumbuh dengan baik. Bila tidak, silahkan diambil kembali. Engkau yang memberi, padaMu juga dia kembali". Saat itu saya merasakan sakit sekali di perut saya, keram yang melebihi saat menstruasi. Kemudian saya ke kamar mandi untuk buang air kecil, Betapa kagetnya saya ketika keluar gumpalan-gumpalan darah seperti hati. Allah :(
Saya pasrah, saya marah, menangis, terlebih kecewa terhadap diri saya sendiri karena merasa gagal menjaga si calon buah hati. Sore hari saya sudah mulai tenang. Kami bergegas menuju Rumah Sakit untuk memeriksakan kembali, memastikan bahwa si jabang bayi masih ada atau tidak. "Apapun hasilnya nanti, terimain ya, ikhlas, ini yang terbaik. Aa tau kamu kuat" ucap Kakang pada saya. Saya hanya mengangguk.
Saya sudah cukup tenang saat memasuki ruangan Dokter. Ketika di USG, jabang bayi sudah tidak terlihat. Dokter menyarankan untuk saya tespek ulang. Dan ternyata hasilnya negatif.
Banyak hal saya dapatkan dengan kejadian ini. Dibalik perasaan kehilangan yang amat mendalam, saya belajar tentang keikhlasan. Ini yang terbaik yang Allah berikan kepada kami. Toh tidak ada yang terjadi secara kebetulan, semua berjalan sesuai alurNya.
dear my beloved baby.. .
Hai sayang, dd lagi apa sekarang? pasti sekarang udah ada di tempat terindah. Segala kebutuhan dd pasti terpenuhi disana. Bunda seneng banget waktu tau dd ada diperut Bunda selama 5minggu. Bunda selalu berdoa biar dd sehat, karena kita bakalan berjuang 8bulan kedepan. Tapi Allah lebih sayang sama dd. Allah ambil lagi dd dari perut bunda. Ayah sama Bunda ikhlas nak, semuanya buat kebaikan kita. Dd yang baik disana ya, jangan buat Allah dan malaikat kesel. Dd nanti jemput bunda sama ayah ya kesana kalau udah waktunya. Ayah sama bunda sayang banget sama dd :*
Senin, 02 Februari 2015
And now our story begin.. .
sebelas januari bertemumenjalani kisah cinta ininaluri berkata engkaulah milikku0
Yap, tanggal sebelas januari 2015 adalah hari yang sangat bersejarah bagi saya. Dimana seorang laki-laki pilihan telah mengucapkan Ijabnya, dimana pada hari itu saya dan dia dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan.
Terhitung dari tulisan ini dibuat, berarti sudah 23 hari saya menjadi seorang istri. Seorang istri dari laki-laki yang ternyata sudah saya kenal selama lebih dari 10 tahun. Siapa yang menyangka bahwa surat cinta monyet yang pernah dia buat untuk saya pada saat kami sama-sama menginjakkan kaki di bangku sekolah menengah pertama (SMP) itu akan mengantarkan kami pada sebuah ikatan yang sakral, pernikahan.
Banyak yang tidak menyangka bahwa kami berdua menikah. Tentu, jangankan orang lain, sayapun sama tidak menyangka. Tidak pernah terpikir sedikitpun bahwa saya akan menjalani hubungan serius dengan lelaki ini. Lelaki yang selama 10 tahun saya kenal sebagai teman, sebagai sahabat. (Gimana gak bisa sahabatan, orang dari SMP sampe STM aja sekelas. bahkan waktu TK pun kita barengan cuman beda kelas aja hehe)
Pernikahan adalah impian setiap perempuan. Dipersuting lelaki idaman adalah harapan. Begitu juga dengan saya. Saya yang selalu ngiler tiap kali mendapatkan wedding invitation dari teman, dan berfikir "giliran gue kapan yak". Sempat menjalani hubungan dengan seseorang menyebabkan saya memutuskan untuk menutup diri dari "pacaran". Trauma? enggak juga sih, tapi lebih kepada menyadari bahwa ternyata hal semacam itu tidak berdampak baik untuk saya. Hingga akhirnya kalimat inipun muncul "Allah, aku gak mau pacaran lagi, kalau ada cowok yang suka sama aku suruh aja datengin Bapak". Itulah kalimat yang selalu saya ucapkan selepas shalat.
Hingga pada akhirnya disuatu malam, Allah menjawab doa saya. Melalui pesan singkat blackberry messanger, lelaki itu menyatakan maksudnya terhadap saya. pesan singkat yang saya tanggapi hanya dengan senyum ketawa-ketiwi dengan nada bercanda. Pesan singkat yang ternyata mengantarkan hati saya pada keyakinan bahwa dia adalah lelaki yang dipilih oleh Allah untuk melengkapi saya.
Yap, lelaki itu adalah Muhamad Reza Fahru Nazar. Lelaki yang sdah saya kenal semenjak kami sama-sama menduduki bangku SMP. Yang ternyata kemudian masih dipertemukan lagi ketika menduduki bangku STM. 3 tahun di SMP, dan 4 tahun di STM, membuat saya mengenali sosoknya sebagai lelaki yang begitu baik. Selama itu pula kami bahkan saling bercerita tentang orang-orang yang kami kagumi masing-masing. Tapi ternyata rencana Allah itu lain, kamilah yang ternyata dipersatukan untuk saling mengisi cerita di kemudian hari.
Sungguh, tak ada kalimat "mau jadi pacaar aku", atau "aku suka sama kamu", yang ada hanyalah "aku memilihmu untuk menjadi istri, untuk menjadi ibu dari anak-anakku kelak". You can imagine? ketika seorang wanita mendapatkan kalimat seperti itu dari seorang lelaki, mungkinkah hanya bercanda? Ketika itu pula saya memintanya untuk bertemu dengan kedua orangtua saya, dan dia menyanggupi. Allah, jodoh itu begitu dekat ternyata :)
Tidak lama dari pesan singkat itu, dia akhirnya menemui orangtua saya dan menyampaikan maksudnya. Tanggapan orangtua sayapun baik, menyerahkan semua kepada saya. (waktu itu masih gak nyangka ada yang ngajakin nikah).
Agustus 2014, dia datang bersama keluarganya untuk melamar saya. Lalu kemudian ditentukanlah waktu akad nikah pada bulan Januari.
Semuanya berjalan dengan lancar, begitu alami, dan diberikan kemudahan. Sampai pada waktunya tanggal 11 Januari 2015 kalimat itu terdengar dengan jelas,
"saya terima nikahnya dan kawinnya Diyana Rizma Rumanggit binti Gegen Rahardjo dengan maskawin tersebut tunai", alhamdulillah saya telah sah menjadi seorang istri.
Benar, tidak ada sesuatu yang lebih indah daripada dua orang yang saling mencintai selain pernikahan. Semua terasa berbeda. Hari itu, kami dipersatukan menjadi suami istri. Hari itu, saya terlepas dari tanggungan orang tua saya. Mulai hari itu, saya benar-benar merasa menjadi wanita yang berbahagia. Alhamdulillah, Alah terima kasih, maka NikmatMu yang manakah yang akan aku dustakan?
Terhitung mulai dari hari itu, kami sama-sama belajar. Belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Belajar untuk saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Belajar untuk selalu memperbaiki diri. Tidak ada yang tidak membahagiakan ketika kita memasrahkan dan mempercayakan semuanya kepada Allah.
dear beloved husband.. .
Hai a, aa pasti baca tulisan ini (soalnya pasti aku upload di sosmed hehe). Aku gak tau harus mulai dari mana, tapi yang pasti aku mau bilang makasih banyak ke aa. Makasih untuk semua yang udah aa lakuin buat aku, buat keluarga aku, buat nunjukin ke Ibu dan Bapak kalau aa bener-bener serius mau jagain aku. Makasih untuk semua perhatian, pengertian, dan kasih sayang yang sampe saat ini aku gak pernah ngerasa kurang. Makasih udah jadi sosok yang selalu mengagumkan setiap harinya. Menjadi sosok yang ketika aku lagi bareng-bareng sama aa gak mau berakhir. Maaf kalau belum bisa jadi istri yang diharepin, tapi aku bakalan selalu berusaha buat jadi istri yang baik, buat jadi ISIS kayak yang aa mau, (istri solehah idaman suami). Banyak hal yang aku dapet dari aa, banyak hal yang bisa aku pelajarin setiap harinya. Jangan bosen buat selalu ngingetin aku dalam kebaikan, jangan bosen bimbing dan nasehatin aku ketika aku ngeyel. Makasih banyak udah mau nerima kekurangan sama kelebihan aku. Kita sama-sama belajar buat jadi pribadi yang lebih baik kedepannya, jadi pribadi yang makin hari makin deket sama Allah. Mudah-mudahan kita cepet dikasih dede ya a hehe aamiin. Semoga Allah selalu kasih rahmatnya buat pernikahan kita, semoga kita bisa jadi keluarga sakinah mawadah warahmah, dilimpahin rezeki yang cukup, yang berkah, dan selalu dikelilingi kebahagiaan aamiin.
your beloved wife,
bibilung :*
Banyak yang tidak menyangka bahwa kami berdua menikah. Tentu, jangankan orang lain, sayapun sama tidak menyangka. Tidak pernah terpikir sedikitpun bahwa saya akan menjalani hubungan serius dengan lelaki ini. Lelaki yang selama 10 tahun saya kenal sebagai teman, sebagai sahabat. (Gimana gak bisa sahabatan, orang dari SMP sampe STM aja sekelas. bahkan waktu TK pun kita barengan cuman beda kelas aja hehe)
Pernikahan adalah impian setiap perempuan. Dipersuting lelaki idaman adalah harapan. Begitu juga dengan saya. Saya yang selalu ngiler tiap kali mendapatkan wedding invitation dari teman, dan berfikir "giliran gue kapan yak". Sempat menjalani hubungan dengan seseorang menyebabkan saya memutuskan untuk menutup diri dari "pacaran". Trauma? enggak juga sih, tapi lebih kepada menyadari bahwa ternyata hal semacam itu tidak berdampak baik untuk saya. Hingga akhirnya kalimat inipun muncul "Allah, aku gak mau pacaran lagi, kalau ada cowok yang suka sama aku suruh aja datengin Bapak". Itulah kalimat yang selalu saya ucapkan selepas shalat.
Hingga pada akhirnya disuatu malam, Allah menjawab doa saya. Melalui pesan singkat blackberry messanger, lelaki itu menyatakan maksudnya terhadap saya. pesan singkat yang saya tanggapi hanya dengan senyum ketawa-ketiwi dengan nada bercanda. Pesan singkat yang ternyata mengantarkan hati saya pada keyakinan bahwa dia adalah lelaki yang dipilih oleh Allah untuk melengkapi saya.
Yap, lelaki itu adalah Muhamad Reza Fahru Nazar. Lelaki yang sdah saya kenal semenjak kami sama-sama menduduki bangku SMP. Yang ternyata kemudian masih dipertemukan lagi ketika menduduki bangku STM. 3 tahun di SMP, dan 4 tahun di STM, membuat saya mengenali sosoknya sebagai lelaki yang begitu baik. Selama itu pula kami bahkan saling bercerita tentang orang-orang yang kami kagumi masing-masing. Tapi ternyata rencana Allah itu lain, kamilah yang ternyata dipersatukan untuk saling mengisi cerita di kemudian hari.
Sungguh, tak ada kalimat "mau jadi pacaar aku", atau "aku suka sama kamu", yang ada hanyalah "aku memilihmu untuk menjadi istri, untuk menjadi ibu dari anak-anakku kelak". You can imagine? ketika seorang wanita mendapatkan kalimat seperti itu dari seorang lelaki, mungkinkah hanya bercanda? Ketika itu pula saya memintanya untuk bertemu dengan kedua orangtua saya, dan dia menyanggupi. Allah, jodoh itu begitu dekat ternyata :)
Tidak lama dari pesan singkat itu, dia akhirnya menemui orangtua saya dan menyampaikan maksudnya. Tanggapan orangtua sayapun baik, menyerahkan semua kepada saya. (waktu itu masih gak nyangka ada yang ngajakin nikah).
Agustus 2014, dia datang bersama keluarganya untuk melamar saya. Lalu kemudian ditentukanlah waktu akad nikah pada bulan Januari.
Semuanya berjalan dengan lancar, begitu alami, dan diberikan kemudahan. Sampai pada waktunya tanggal 11 Januari 2015 kalimat itu terdengar dengan jelas,
"saya terima nikahnya dan kawinnya Diyana Rizma Rumanggit binti Gegen Rahardjo dengan maskawin tersebut tunai", alhamdulillah saya telah sah menjadi seorang istri.
Benar, tidak ada sesuatu yang lebih indah daripada dua orang yang saling mencintai selain pernikahan. Semua terasa berbeda. Hari itu, kami dipersatukan menjadi suami istri. Hari itu, saya terlepas dari tanggungan orang tua saya. Mulai hari itu, saya benar-benar merasa menjadi wanita yang berbahagia. Alhamdulillah, Alah terima kasih, maka NikmatMu yang manakah yang akan aku dustakan?
Terhitung mulai dari hari itu, kami sama-sama belajar. Belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Belajar untuk saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Belajar untuk selalu memperbaiki diri. Tidak ada yang tidak membahagiakan ketika kita memasrahkan dan mempercayakan semuanya kepada Allah.
dear beloved husband.. .
Hai a, aa pasti baca tulisan ini (soalnya pasti aku upload di sosmed hehe). Aku gak tau harus mulai dari mana, tapi yang pasti aku mau bilang makasih banyak ke aa. Makasih untuk semua yang udah aa lakuin buat aku, buat keluarga aku, buat nunjukin ke Ibu dan Bapak kalau aa bener-bener serius mau jagain aku. Makasih untuk semua perhatian, pengertian, dan kasih sayang yang sampe saat ini aku gak pernah ngerasa kurang. Makasih udah jadi sosok yang selalu mengagumkan setiap harinya. Menjadi sosok yang ketika aku lagi bareng-bareng sama aa gak mau berakhir. Maaf kalau belum bisa jadi istri yang diharepin, tapi aku bakalan selalu berusaha buat jadi istri yang baik, buat jadi ISIS kayak yang aa mau, (istri solehah idaman suami). Banyak hal yang aku dapet dari aa, banyak hal yang bisa aku pelajarin setiap harinya. Jangan bosen buat selalu ngingetin aku dalam kebaikan, jangan bosen bimbing dan nasehatin aku ketika aku ngeyel. Makasih banyak udah mau nerima kekurangan sama kelebihan aku. Kita sama-sama belajar buat jadi pribadi yang lebih baik kedepannya, jadi pribadi yang makin hari makin deket sama Allah. Mudah-mudahan kita cepet dikasih dede ya a hehe aamiin. Semoga Allah selalu kasih rahmatnya buat pernikahan kita, semoga kita bisa jadi keluarga sakinah mawadah warahmah, dilimpahin rezeki yang cukup, yang berkah, dan selalu dikelilingi kebahagiaan aamiin.
your beloved wife,
bibilung :*
![]() |
| and now our story begin |
Rabu, 27 Agustus 2014
Tentang Dia "One Petualang"
Time flies, sudah tujuh tahun ini seorang Hilwan telah menjadi bagian di hidup saya. Dan memang kenyataannya sampai sekarang hubungan kami sewajarnya seperti kakak dan adik. Saling bercerita, bertukar pikiran, berkeluh kesah, juga bercanda tawa. Lucu nya kami tidak pernah sepaham. Mungkin itu yang menjadikan kami selalu beradu argumen untuk hal apapun. Tetapi justru disitu seninya, apapun yang kita perdebatkan malah membuat kami semakin saling mengenal. Biarlah, kamu tetap pada pemikiranmu dan aku tetap pada pemikiranku.
Tahun 2008, pertama kali kami melakukan perjalanan bersama (tentunya selain dari pendidikan organisasi). Gunung Cikuray menjadi pilihan kami pada saat itu. Hanya berbekalkan uang dua puluh ribu rupiah dan mie instan 2 bungkus kak Hilwan sudah menjamin untuk perjalanan kami saat itu. Itulah perjalanan pertama saya dengan dia, yang ternyata menjadi pintu perjalanan-perjalanan selanjutnya.
![]() |
| ini gak tau deh kenapa gambarnya kebolak gitu, maap dulu masih belum pake jilbab, Cikuray 2008 |
Ditahun yang sama saya melakukan Ekspedisi ke Pegunungan Malabar dikawasan Pangalengan. Kak Hilwan memilih untuk menjadi pendamping kelompok saya saat itu. Sempat menjadi perbincangan karena kenapa kelompok saya yang dia pilih, karena pada saat itu ternyata kak Hilwan menjalin hubungan bersama teman seangkatan saya (oke lupakan itu hanya masa lalu). Meskipun kami dekat, kami selalu kondisional kok. Dalam organisasi ya kami adalah senior dan junior. ahh, dan lagi saya selalu tidak senang dengan sikapnya yang selalu senioritas itu, menyebalkan sekali.
![]() |
| puncak burangrang tahun 2008 |
![]() |
| puncak burangrang tahun 2009 |
![]() |
| puncak burangrang tahun 2012 |
Tahun-tahun berikutnya tidak banyak perjalanan yang kami lakukan. Karena pada saat itu kami masih berstatus sebagai pelajar yang tidak memiliki banyak kesempatan untuk melakukan perjalanan diluar kegiatan rutin organisasi. Sampai saat dimana saya menginjak tahun ke-empat di sekolah dan sedang melakunan Praktek Kerja Lapangan diluar kota kami baru memulai lagi perjalanan, saat itu kak Hilwan sudah lulus dari STM. Mungkin tepatnya pada awal tahun 2011 kami melakukan perjalanan ke Gunung Gede Pangrango di daerah Bogor. Dimulai sejak saat itu, kemanapun saya dan kak Hilwan selalu melalukan pendakian bersama.
![]() |
| TNGGP tahun 2011 |
![]() |
| TNGGP tahun 2012 |
![]() |
| cikuray tahun 2013 |
![]() |
| pangrango 2013 |
![]() |
| Rinjani tahun 2014 |
![]() |
| Papandayan 2014 |
Selama ini, sosok kak Hilwan yang selalu menjadi bodyguard untuk saya. Menemani, melindungi, menjaga, juga mensponsori segala keperluan saya hahahha (ini lebay sih). Yang pasti dia itu baik sekali, sungguh deh suer. Cuman ya gitu deh, tukang gonta-ganti cewek hahah. Ini yang saya kurang suka. Saking baiknya dia terhadap perempuan, jadi sok-sok an gampang banget deketin cewek ppfffttttttt. Juga untuk masalah yang satu ini saya selalu tidak sependapat dengannya. Kadang, kalau kenal cewek dia suka nanya dulu "de si ini gimana, si itu gimana", tapi giliran dikasih masukan gak pernah tuh sepaham (emang saruana deng kita mah) hahahhahah
Waktu berlalu, kami beranjak dewasa. Menjadi pribadi masing-masing dengan segala kekurangan dan kelebihan. Mungkin sekarang sudah saatnya saya dan kak Hilwan mencari partner baru untuk melakukan perjalanan. Entahlah, saya hanya berpikir untuk memberikan jarak dan waktu untuk masing-masing dari kami melakukan perjalanan dengan si (calon) partner hidup. Sudah waktunya orang yang selalu menemani saya mendaki itu berganti, bukan Hilwan terus. Juga sebaliknya, orang yang membuntuti setiap perjalanan kak Hilwan bukan saya lagi, tapi si eneng ya kak ? heheheheh
![]() |
| dari masa ke masa |
Dari sini saya sadar, bahwa saudara itu bukan berarti harus sedarah. Bukan berarti harus lahir dari ibu yang sama. Tetapi saudara itu ya kita. Saya dan dia, saya dan kamu, saya dan kalian , juga saya dan mereka yang hidup bersama dengan segala kegilaan yang pernah dilakukan. Makan dipiring yang sama, tidur di alas yang sama, juga yang penting adalah tertawa juga berbagi duka bersama. hehe
dear kakak item.. .
hey you! so many time we spent together.. .
thanks for everything. for your time, for your money haha
thanks for taking care of me, guiding me, protect me, thanks for everything you do.
thanks for being best partner ever, thanks for being a good brother.
dulu aku selalu manyun kalau kamu pergi dan aku gak diajak, sekarang sok mau kemanapun juga ama si nengnya, aku gakan ngebuntutin wkwk
someday, we should make a family journey yaakkk, kemping ceria gitu deh dipadang edelweis hehe
petualangan kita gak berenti sampe disini, cuman kasih waktu dan jarak aja biar kita bisa bertualang bareng (calon0 partner hidup masing-masing.
sedih gak sih kak? engga kan?
jalan kan masih panjang ia gak hehe
your little sister with love
~nduy~
Kamis, 10 Juli 2014
22 years old.. .
happy birthday diyanaaa.. .
selamat ulangtahun gajaaahhhhh.. .
Yaaakkkkkk syukur alhamdulillah saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan saya kesempatan untuk bernafas hingga usia sekarang. Hari ini, tepat tanggal 10 Juli, merupakan hari kelahiran saya. Hari dimana seorang Ibu bernama Rina Rusmiati telah melahirkan putri pertamanya yang diberi nama Diyana Rizma Rumanggit. Berharap kelak putrinya menjadi seorang wanita yang berlimpah rezeki dan menjadi orang bermanfaat dimuka bumi ini.
Terima kasih untuk Ibu, yang dengan perjuangannya telah melahirkan saya. Perjuangan antara hidup dan mati demi melahirkan saya ke dunia ini. Terima kasih telah membesarkan saya hingga sekarang. Memberikan cinta kasih tiada henti kepada saya hingga saya sebesar ini. Maaf belum bisa kasih apa-apa ke ibu. Maaf untuk setiap tetes air mata yang jatuh kala Ibu berdoa. Suatu hari nanti pasti tetesan airmata itu akan terbayar dengan kebahagiaan Ibu.
Hari ini, 10 Juli 2014, genap usia saya 22 tahun. Sedih, juga bahagia. Sedih karena jatah usia yang Allah berikan kepada saya telah berkurang. Bahagia untuk segala sesuatu yang telah saya terima, saya rasakan, dan saya dapatkan hingga usia ke 22 ini.
Tepat dihari ini, 22 tahun sudah saya hidup didunia. Menjadi seorang Diyana dengan segala kelebihan dan tentu banyak kurangnya. Seorang Diyana yang lebih banyak berbuat salah dibanding baiknya (mungkin). Diyana yang judes, bawel, jutek (katanya), padahal kalau sudah kenal mungkin saya adalah tipikal orang yang menyenangkan (ngebela diri). Banyak hal yang harus saya perbaiki menginjak usia yang sudah tidak muda lagi. Banyak hal positif yang harus saya lakukan agar hidup saya lebih bermanfaat.
Hari ini, di usia yang ke 22, tidak ada yang lebih spesial daripada doa yang dipanjatkan kedua orangtua saya. Tidak ada yang lebih spesial daripada sebuah kejutan dan tiup lilin dari teman-teman satu kost tadi malam. Terimakasih.. .
Hari ini, di usia yang ke 22, tidak begitu banyak ucapan selamat dan juga permintaan traktir seperti tahun-tahun sebelumnya. Entahlah, saya lebih merasa senang ketika sosial media belum terlalu melekat kepada manusia. Dimana ucapan selamat ulangtahun dan doa bisa disampaikan secara personal dengan pesan text dibandingkan hanya sekedar loved pada sebuah foto, hehe. Ketika ucapan selamat dan doa diucapkan secara personal lewat suara ditelpon dibandingkan hanya lewat berbagai macam emoticon.. Baiklah, saya harus menerima kenyataan bahwa kehidupan sekarang sudah berbeda.. .
Terimakasih atas ucapan selamat kalian yang diberikan secara personal untuk saya, senang sekali rasanya membaca ulang setiap kalimatnya.. .
Hari ini, di usia yang ke 22, tidak banyak yang saya harapkan. Selain dari keinginan untuk tetap bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah, lebih banyak beribadah, lebih banyak traveling, main, naik gunung, ahahahha
aamiinkan saja :)
Hari ini, di usia saya yang ke 22, terima kasih untuk doa yang teman-teman, sahabat, saudara sekalian panjatkan untuk saya. Semoga Allah satu persatu mengabulkan dan membalas kebaikan kalian semua.
"menjadi tua itu pasti, tetapi menjadi dewasa itu adalah sebuah pilihan", semoga saya bisa lebih bijak dalam bersikap dan menjalani hidup.
regards,
diyana
selamat ulangtahun gajaaahhhhh.. .
Yaaakkkkkk syukur alhamdulillah saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan saya kesempatan untuk bernafas hingga usia sekarang. Hari ini, tepat tanggal 10 Juli, merupakan hari kelahiran saya. Hari dimana seorang Ibu bernama Rina Rusmiati telah melahirkan putri pertamanya yang diberi nama Diyana Rizma Rumanggit. Berharap kelak putrinya menjadi seorang wanita yang berlimpah rezeki dan menjadi orang bermanfaat dimuka bumi ini.
Terima kasih untuk Ibu, yang dengan perjuangannya telah melahirkan saya. Perjuangan antara hidup dan mati demi melahirkan saya ke dunia ini. Terima kasih telah membesarkan saya hingga sekarang. Memberikan cinta kasih tiada henti kepada saya hingga saya sebesar ini. Maaf belum bisa kasih apa-apa ke ibu. Maaf untuk setiap tetes air mata yang jatuh kala Ibu berdoa. Suatu hari nanti pasti tetesan airmata itu akan terbayar dengan kebahagiaan Ibu.
Hari ini, 10 Juli 2014, genap usia saya 22 tahun. Sedih, juga bahagia. Sedih karena jatah usia yang Allah berikan kepada saya telah berkurang. Bahagia untuk segala sesuatu yang telah saya terima, saya rasakan, dan saya dapatkan hingga usia ke 22 ini.
Tepat dihari ini, 22 tahun sudah saya hidup didunia. Menjadi seorang Diyana dengan segala kelebihan dan tentu banyak kurangnya. Seorang Diyana yang lebih banyak berbuat salah dibanding baiknya (mungkin). Diyana yang judes, bawel, jutek (katanya), padahal kalau sudah kenal mungkin saya adalah tipikal orang yang menyenangkan (ngebela diri). Banyak hal yang harus saya perbaiki menginjak usia yang sudah tidak muda lagi. Banyak hal positif yang harus saya lakukan agar hidup saya lebih bermanfaat.
Hari ini, di usia yang ke 22, tidak ada yang lebih spesial daripada doa yang dipanjatkan kedua orangtua saya. Tidak ada yang lebih spesial daripada sebuah kejutan dan tiup lilin dari teman-teman satu kost tadi malam. Terimakasih.. .
![]() |
| Add caption |
Hari ini, di usia yang ke 22, tidak begitu banyak ucapan selamat dan juga permintaan traktir seperti tahun-tahun sebelumnya. Entahlah, saya lebih merasa senang ketika sosial media belum terlalu melekat kepada manusia. Dimana ucapan selamat ulangtahun dan doa bisa disampaikan secara personal dengan pesan text dibandingkan hanya sekedar loved pada sebuah foto, hehe. Ketika ucapan selamat dan doa diucapkan secara personal lewat suara ditelpon dibandingkan hanya lewat berbagai macam emoticon.. Baiklah, saya harus menerima kenyataan bahwa kehidupan sekarang sudah berbeda.. .
Terimakasih atas ucapan selamat kalian yang diberikan secara personal untuk saya, senang sekali rasanya membaca ulang setiap kalimatnya.. .
Hari ini, di usia yang ke 22, tidak banyak yang saya harapkan. Selain dari keinginan untuk tetap bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah, lebih banyak beribadah, lebih banyak traveling, main, naik gunung, ahahahha
aamiinkan saja :)
Hari ini, di usia saya yang ke 22, terima kasih untuk doa yang teman-teman, sahabat, saudara sekalian panjatkan untuk saya. Semoga Allah satu persatu mengabulkan dan membalas kebaikan kalian semua.
"menjadi tua itu pasti, tetapi menjadi dewasa itu adalah sebuah pilihan", semoga saya bisa lebih bijak dalam bersikap dan menjalani hidup.
regards,
diyana
Sabtu, 14 Juni 2014
Panorama Cantik di Kegelapan
Hae Blogger, i have something new experience to share. Actually, i'm not a
backpacker or traveler anymore, hanya memanfaatkan kesempatan, waktu dan uang
seadanya untuk sekedar ngikutin kemana kaki ini pengen pergi.ahahha
Ini postingan udah ngangkut di draft selama setahun, persis bulan Juni tahun kemarin. Kalo kemaren-kemaren saya sharing tentang panasnya di pesisir pantai atau dinginnya di puncak gunung, kali ini saya mau cerita tentang menelusuri panorama keindahan didalam kegelapan, tsssaaahhhhh gile bahasanya..
Kali ini saya punya pengalaman baru, caving. Yak, kalian mungkin pernah denger tentang caving atau susur goa ini. Kegiatan outdoor menyusuri goa dengan medan vertikal dan horizontal. Berawal dari seorang teman yang cerita soal pengalaman dia caving. Akhirnya saya penasaran dan banyak bertanya. Mengenai lokasi tempatnya, biayanya, dan lain sebagainya. Saya dan para rumputpun kemudian berencana untuk melakukan caving ini.
Sekitar awal bulan Juni 2013 kami akhirnya bisa melakukan penyusuran. Berlokasi di Sukabumi, goa ini dinamakan Goa Buniayu. Saya penasaran kenapa namanya harus Buniayu, sang guide menjelaskan ternyata Buniayu itu berasal dari bahasa jawa dan sunda, Buni (bahasa sunda) yang dalam bahasa Indonesia berarti tersembunyi, sementara Ayu (bahasa jawa) yang dalam bahasa Indonesia berarti cantik. Jadi Buniayu berarti kecantikan yang tersembunyi. Tentu, karena kecantikan ini letaknya tidak terbuka, namun tersembunyi didalam bumi ini.
Oia, untuk melakukan kegiatan caving ini kita harus booking dulu. Karena quota tiap harinya terbatas, disesuaikan dengan jumlah guide yang ada. Pada saat itu saya mendapat kenalan dari teman, namanya Bang Bobi. Beliau akan menemani kami selama disana.
Rabu malam Saya, Abang, Nur dan Ghilman janjian di Terminal Kp. Rambutan, sementara Cumi menunggu di Ciawi. Kenapa Rabu malam, karena besok hari Kamis adalah tanggal merah dan long weekend (long weekend tidak berlaku untuk saya). Sekitar pukul 11 malam kami baru berkumpul, dan ternyata bis menuju Ciawi sudah tidak ada akhirnya dengan berat hati kami menggunakan taxi (gaya bangetlah ). Jalanan cukup lancar, mungkin karena malam sudah larut. Sampai di Ciawi sekitar pukul 12, bertemu dengan Cumi dan memutuskan untuk sekedar mengganjal perut diwarung kopi. Dari Ciawi kami baru menuju terminal Sukabumi, bertemu dengan Bang Bobi.
Sekitar pukul 1 dinihari kami sampai di terminal Sukabumi. Disana sudah ada teman Abang yang akan mengantar kami ke lokasi caving. Jaraknya cukup jauh dan sepi, juga ternyata sangat gelap. Namun siapa sangka setelah kami melewati medan gelap tersebut terdapat pemukiman didalamnya. Sekitar pukul setengah 3 kami sampai. Gelap. Sepi. Lalu bang Bobi mengajak kami ke rumah Kang Inoy, katanya kita menginap disana. Kang Inoy sangat baik, beliau mempersilakan kami untuk beristirahat disana menunggu pagi.
Rencananya nanti pagi kami akan mulai melakukan penyusuran. Malam itu dingin sekali, Saya dan Nur tidur dikasur didalam kamar sementara yang lain tidur ditengah rumah. Menjelang subuh terdengar suara hujan membangunkan, kami shalat subuh lalu kemudian membiarkan tubuh ini tertidur kembali. Diluar sana masih hujan, Kang Inoy bilang berbahaya kalau memaksakan untuk tetap melakukan penyusuran. Air sungai bisa tiba-tiba meluap dan masuk kedalam goa tanpa sepengetahuan. Saya sedikit manyun, karena saya hanya punya waktu satu hari itu saja, besok saya harus bekerja kembali mencari sebongkah berlian (ngok). Pagi itu kami memutuskan untuk sarapan dahulu, istri Kang Inoy sudah membuatkan nasi goreng yang super duper enak, membuat yang lain nambah (plis ini sarapan gais, secukupnya aja).
Menjelang pukul 9 pagi masih gerimis. Kang Inoy tidak mau ambil resiko, tetapi beliau mungkin kasihan melihat saya yang sudah merengek (ala-ala perempuan). Akhirnya kami dibawa ke basecamp. Disana terdapat penginapan dari bamboo, sengaja dibuat untuk para tamu yang datang jauh (bayar tapi gak geratis). Pukul 11 hujan mulai mereda. Saya tersenyum sambil melirik Kang Inoy. “besok lagi ajalah neng” ucap Kang inoy sembari mengedipkan mata kepada teman-teman saya, merekapun meng-iyakan. Sementara saya menggerutu dan langsung cemberut. “yaudah atuh sok masuk kesana pilih baju sama sepatu yang pas” kata Kang Inoy. Sayapun tersenyum, akhirnya bisa caving hari ini juga Alhamdulillah.
Warepack, sepatu boot, helm, dan headlamp sudah kami kenakan. Berbekal daypack berisi makanan dan minuman yang dibawa oleh Abang. Handphone sudah saya masukan plastic untuk dokumentasi. Oke let’s go, kami siap untuk menyusuri goa.
Dari basecamp kami berjalan sekitar 15 menit menuju pintu masuk. Disana sudah ada para guide dan rombongan yang lainnya. Untuk masuk kedalam goa kami harus melakukan rappelling vertical (teknik menuruni tebing). Setelah memakai sit harness (safety yang dipakai membentuk celana dalam, menggunakan carrabinner untuk menahan beban), satu persatu dari kami mulai memasuki mulut goa. Kurang lebih kedalamannya 15m, cukup membuat jantung dugdugser ketika tubuh ini mulai terhempas kebawah. Dan ketika giliran saya sampai di dalam goa, wow saya tercengang. Subhanallah, indah sekali. Batuan stalagtit dan stalagmite nampak terlihat jelas. Bang Bobi bilang selama penyusuran goa ini kami akan melewati 3 medan, yaitu medan basah, medan kering, dan medan berlumpur.
Medan yang pertama adalah medan basah. Berupa aliran sungai dengan arus yang cukup deras sehingga membuat kami harus lebih hati-hati dalam melangkah. 15 menit berjalan di air cukup membuat tubuh menggigil. Canda dan tawa meriuh rendah selama perjalanan. Sekitar setelah 30 menit berjalan sang guide (saya lupa namanya, kita panggil saja dia akang) meminta kami untuk beristirahat dahulu. “istirahat dulu aja ya, sok silahkan dimakan perbekalannya” ucapnya kepada kami. Kamipun membuka bekal yang kami bawa. Roti, ciki, minuman kami makan bersama. Lalu si akang berkata lagi “udah makannya? Sini ngumpul disini”, kamipun mengikutinya. “sok duduk dulu, terus matiin headlampnya” kami mengikuti instruksinya. Gelap. Hening. Hanya percikan suara air dari atas batu yang terdengar. “ini kegelapan abadi, sekarang kalian silakan renungkan, kalau saja penglihatan kalian menjadi gelap seperti ini apa yang kalian rasakan” ucap si akang. Saya pun terhanyut dalam sebuah renungan. Disini gelap. Sungguh saya tidak bisa melihat apa-apa. Saya mencoba membayangkan bagaimana rasanya jika setiap hari yang saya rasakan hanya gelap seperti ini, tidak bisa melihat sekitar, pemandangan, juga tidak bisa melihat kamuuuu, iya kamu (apasih ini mah intermezzo). Allah, terima kasih untuk mata ini. terima kasih untuk penglihatan ini. Saya bisa menikmati keindahan yang engkau ciptakan.
Kami melanjutkan perjalanan. Sekarang medannya kering. Kami banyak dijahili oleh si akang. Seru, menyenangkan, dan kami cukup puas untuk mengeluarkan tawa. Medan terakhir memasuki kawasan berlumpur. Kami cukup kesulitan untuk berjalan, karena sepatu boot kami mendelep saat menginjak. Candaan-candaanpun mulai terlontar. Kejahilan-kejahilan si akang dimulai ketika dia melemparkan lumpur ke helm kami. Bang bobi juga tidak kalah jahil, dia menaruh tumpukan lumpur diatas helm saya sehingga kepala saya keberatan dan akhirnya jengkang ke belakang. Saya rasa grup kami inilah yang paling heboh sepanjang perjalanan. Mendekati pintu keluar trek cukup sulit. Terbuat tangga dari kayu dan tambang, kami harus menaiki tangga tersebut. Namun yang menjadi sulit adalah dikarenakan medannya lumpur sehingga membuat tangga itu menjadi sangat licin.
Cahaya sudah terlihat didepan sana, pintu keluar sudah mulai nampak. Untuk keluar kami tinggal menaiki anak tangga. Alhamdulillah penyusuran akhirnya selesai juga. Sekitar 3 jam kami susur goa, sekarang waktunya bersih-bersih dari kotoran lumpur yang menempel dibadan. Kami pun menuju air terjun bibijilan, sekitar 3km dari lokasi goa. Sampai disana kami membersihkan diri, segar rasanya. Lalu kemudian kami beranjak ke basecamp untuk menaruh sepatu, warepack dan helm. Terdapat kamar mandi di sekitar basecamp akhirnya kami untuk memutuskan mandi dahulu lalu kemudian kembali ke rumah Kang Inoy. Disana sudah disediakan makan, kamipun segera menyantapnya. Selepas maghrib kami pamit kepada Kang Inoy dan keluarga. Berat rasanya meninggalkan kehangatan keluarga disini. Tapi besok saya harus kembali bekerja. Kang Inoy berpesan agar dilain waktu dan kesempatan kami bisa mengunjungi mereka lagi disana, juga membawa teman-teman yang lain untuk melakukan penyusuran goa.
Terima kasih kepada Kang Inoy dan istri, terima kasih kepada akang guide, terima kasih untuk Bang bobi, terima kasih untuk rumputliarku, juga tidak lupa terima kasih kepada Allah SWT untuk selalu memberikan saya kesempatan menikmati alam ciptaanNya.
Kapan kita kemana lagi?
Estimasi biaya:
Term kp. Rambutan- Ciawi= Rp. 10.000/org
Ciawi- term. Sukabumi = Rp. 10.000/org
Term. Sukabumi-lokasi caving= Rp. 250.000 (carter angkot)
Caving+makan= Rp. 200.000/org
Cp:
Kang Inoy 085724469801
Bang Bobi 085781062131
*note
Untuk biaya caving, makan dan carter angkot bisa didiskusikan dulu dengan Kang Inoy ketika booking
Ini postingan udah ngangkut di draft selama setahun, persis bulan Juni tahun kemarin. Kalo kemaren-kemaren saya sharing tentang panasnya di pesisir pantai atau dinginnya di puncak gunung, kali ini saya mau cerita tentang menelusuri panorama keindahan didalam kegelapan, tsssaaahhhhh gile bahasanya..
Kali ini saya punya pengalaman baru, caving. Yak, kalian mungkin pernah denger tentang caving atau susur goa ini. Kegiatan outdoor menyusuri goa dengan medan vertikal dan horizontal. Berawal dari seorang teman yang cerita soal pengalaman dia caving. Akhirnya saya penasaran dan banyak bertanya. Mengenai lokasi tempatnya, biayanya, dan lain sebagainya. Saya dan para rumputpun kemudian berencana untuk melakukan caving ini.
Sekitar awal bulan Juni 2013 kami akhirnya bisa melakukan penyusuran. Berlokasi di Sukabumi, goa ini dinamakan Goa Buniayu. Saya penasaran kenapa namanya harus Buniayu, sang guide menjelaskan ternyata Buniayu itu berasal dari bahasa jawa dan sunda, Buni (bahasa sunda) yang dalam bahasa Indonesia berarti tersembunyi, sementara Ayu (bahasa jawa) yang dalam bahasa Indonesia berarti cantik. Jadi Buniayu berarti kecantikan yang tersembunyi. Tentu, karena kecantikan ini letaknya tidak terbuka, namun tersembunyi didalam bumi ini.
Oia, untuk melakukan kegiatan caving ini kita harus booking dulu. Karena quota tiap harinya terbatas, disesuaikan dengan jumlah guide yang ada. Pada saat itu saya mendapat kenalan dari teman, namanya Bang Bobi. Beliau akan menemani kami selama disana.
Rabu malam Saya, Abang, Nur dan Ghilman janjian di Terminal Kp. Rambutan, sementara Cumi menunggu di Ciawi. Kenapa Rabu malam, karena besok hari Kamis adalah tanggal merah dan long weekend (long weekend tidak berlaku untuk saya). Sekitar pukul 11 malam kami baru berkumpul, dan ternyata bis menuju Ciawi sudah tidak ada akhirnya dengan berat hati kami menggunakan taxi (gaya bangetlah ). Jalanan cukup lancar, mungkin karena malam sudah larut. Sampai di Ciawi sekitar pukul 12, bertemu dengan Cumi dan memutuskan untuk sekedar mengganjal perut diwarung kopi. Dari Ciawi kami baru menuju terminal Sukabumi, bertemu dengan Bang Bobi.
Sekitar pukul 1 dinihari kami sampai di terminal Sukabumi. Disana sudah ada teman Abang yang akan mengantar kami ke lokasi caving. Jaraknya cukup jauh dan sepi, juga ternyata sangat gelap. Namun siapa sangka setelah kami melewati medan gelap tersebut terdapat pemukiman didalamnya. Sekitar pukul setengah 3 kami sampai. Gelap. Sepi. Lalu bang Bobi mengajak kami ke rumah Kang Inoy, katanya kita menginap disana. Kang Inoy sangat baik, beliau mempersilakan kami untuk beristirahat disana menunggu pagi.
Rencananya nanti pagi kami akan mulai melakukan penyusuran. Malam itu dingin sekali, Saya dan Nur tidur dikasur didalam kamar sementara yang lain tidur ditengah rumah. Menjelang subuh terdengar suara hujan membangunkan, kami shalat subuh lalu kemudian membiarkan tubuh ini tertidur kembali. Diluar sana masih hujan, Kang Inoy bilang berbahaya kalau memaksakan untuk tetap melakukan penyusuran. Air sungai bisa tiba-tiba meluap dan masuk kedalam goa tanpa sepengetahuan. Saya sedikit manyun, karena saya hanya punya waktu satu hari itu saja, besok saya harus bekerja kembali mencari sebongkah berlian (ngok). Pagi itu kami memutuskan untuk sarapan dahulu, istri Kang Inoy sudah membuatkan nasi goreng yang super duper enak, membuat yang lain nambah (plis ini sarapan gais, secukupnya aja).
![]() |
| welcome to buniayu cave |
![]() |
| pemandangan sekitar basecamp |
![]() |
| pemandangan sekitar basecamp |
Menjelang pukul 9 pagi masih gerimis. Kang Inoy tidak mau ambil resiko, tetapi beliau mungkin kasihan melihat saya yang sudah merengek (ala-ala perempuan). Akhirnya kami dibawa ke basecamp. Disana terdapat penginapan dari bamboo, sengaja dibuat untuk para tamu yang datang jauh (bayar tapi gak geratis). Pukul 11 hujan mulai mereda. Saya tersenyum sambil melirik Kang Inoy. “besok lagi ajalah neng” ucap Kang inoy sembari mengedipkan mata kepada teman-teman saya, merekapun meng-iyakan. Sementara saya menggerutu dan langsung cemberut. “yaudah atuh sok masuk kesana pilih baju sama sepatu yang pas” kata Kang Inoy. Sayapun tersenyum, akhirnya bisa caving hari ini juga Alhamdulillah.
![]() |
| penginapan saung bambu |
![]() |
| warning!!! |
![]() |
| depan basecamp |
Warepack, sepatu boot, helm, dan headlamp sudah kami kenakan. Berbekal daypack berisi makanan dan minuman yang dibawa oleh Abang. Handphone sudah saya masukan plastic untuk dokumentasi. Oke let’s go, kami siap untuk menyusuri goa.
![]() |
| lebih mirip petugas kebersihan kayaknya ya? |
![]() |
| ready to caving |
Dari basecamp kami berjalan sekitar 15 menit menuju pintu masuk. Disana sudah ada para guide dan rombongan yang lainnya. Untuk masuk kedalam goa kami harus melakukan rappelling vertical (teknik menuruni tebing). Setelah memakai sit harness (safety yang dipakai membentuk celana dalam, menggunakan carrabinner untuk menahan beban), satu persatu dari kami mulai memasuki mulut goa. Kurang lebih kedalamannya 15m, cukup membuat jantung dugdugser ketika tubuh ini mulai terhempas kebawah. Dan ketika giliran saya sampai di dalam goa, wow saya tercengang. Subhanallah, indah sekali. Batuan stalagtit dan stalagmite nampak terlihat jelas. Bang Bobi bilang selama penyusuran goa ini kami akan melewati 3 medan, yaitu medan basah, medan kering, dan medan berlumpur.
![]() |
| pintu masuk goa |
![]() |
| pemasangan safety |
![]() |
| pemasangan safety |
![]() |
| mau turun nih cyyynnnnn |
Medan yang pertama adalah medan basah. Berupa aliran sungai dengan arus yang cukup deras sehingga membuat kami harus lebih hati-hati dalam melangkah. 15 menit berjalan di air cukup membuat tubuh menggigil. Canda dan tawa meriuh rendah selama perjalanan. Sekitar setelah 30 menit berjalan sang guide (saya lupa namanya, kita panggil saja dia akang) meminta kami untuk beristirahat dahulu. “istirahat dulu aja ya, sok silahkan dimakan perbekalannya” ucapnya kepada kami. Kamipun membuka bekal yang kami bawa. Roti, ciki, minuman kami makan bersama. Lalu si akang berkata lagi “udah makannya? Sini ngumpul disini”, kamipun mengikutinya. “sok duduk dulu, terus matiin headlampnya” kami mengikuti instruksinya. Gelap. Hening. Hanya percikan suara air dari atas batu yang terdengar. “ini kegelapan abadi, sekarang kalian silakan renungkan, kalau saja penglihatan kalian menjadi gelap seperti ini apa yang kalian rasakan” ucap si akang. Saya pun terhanyut dalam sebuah renungan. Disini gelap. Sungguh saya tidak bisa melihat apa-apa. Saya mencoba membayangkan bagaimana rasanya jika setiap hari yang saya rasakan hanya gelap seperti ini, tidak bisa melihat sekitar, pemandangan, juga tidak bisa melihat kamuuuu, iya kamu (apasih ini mah intermezzo). Allah, terima kasih untuk mata ini. terima kasih untuk penglihatan ini. Saya bisa menikmati keindahan yang engkau ciptakan.
![]() |
| jempol dulu boleehhh |
![]() |
| cemal cemil istirahat |
![]() |
| tetesan air |
![]() |
| stalagmit |
![]() |
| stalagtit |
![]() |
| yang cantik di tempat cantik ahahahha |
Kami melanjutkan perjalanan. Sekarang medannya kering. Kami banyak dijahili oleh si akang. Seru, menyenangkan, dan kami cukup puas untuk mengeluarkan tawa. Medan terakhir memasuki kawasan berlumpur. Kami cukup kesulitan untuk berjalan, karena sepatu boot kami mendelep saat menginjak. Candaan-candaanpun mulai terlontar. Kejahilan-kejahilan si akang dimulai ketika dia melemparkan lumpur ke helm kami. Bang bobi juga tidak kalah jahil, dia menaruh tumpukan lumpur diatas helm saya sehingga kepala saya keberatan dan akhirnya jengkang ke belakang. Saya rasa grup kami inilah yang paling heboh sepanjang perjalanan. Mendekati pintu keluar trek cukup sulit. Terbuat tangga dari kayu dan tambang, kami harus menaiki tangga tersebut. Namun yang menjadi sulit adalah dikarenakan medannya lumpur sehingga membuat tangga itu menjadi sangat licin.
![]() |
| selfie dimamana |
![]() |
| bang bobi dan si akang |
![]() |
| let's cave and peace maannnnnnn |
![]() |
| trek yang rada ekstreem |
![]() |
| trek di air, arusnya cukup deras |
![]() |
| trek lumpur |
![]() |
| trek lumpur |
Cahaya sudah terlihat didepan sana, pintu keluar sudah mulai nampak. Untuk keluar kami tinggal menaiki anak tangga. Alhamdulillah penyusuran akhirnya selesai juga. Sekitar 3 jam kami susur goa, sekarang waktunya bersih-bersih dari kotoran lumpur yang menempel dibadan. Kami pun menuju air terjun bibijilan, sekitar 3km dari lokasi goa. Sampai disana kami membersihkan diri, segar rasanya. Lalu kemudian kami beranjak ke basecamp untuk menaruh sepatu, warepack dan helm. Terdapat kamar mandi di sekitar basecamp akhirnya kami untuk memutuskan mandi dahulu lalu kemudian kembali ke rumah Kang Inoy. Disana sudah disediakan makan, kamipun segera menyantapnya. Selepas maghrib kami pamit kepada Kang Inoy dan keluarga. Berat rasanya meninggalkan kehangatan keluarga disini. Tapi besok saya harus kembali bekerja. Kang Inoy berpesan agar dilain waktu dan kesempatan kami bisa mengunjungi mereka lagi disana, juga membawa teman-teman yang lain untuk melakukan penyusuran goa.
![]() |
| akhirnya si cantik keluar goa |
![]() |
| masih tetep eksis |
![]() |
| after caving |
![]() |
| bebersih di curug bibijilan |
![]() |
| well done |
Terima kasih kepada Kang Inoy dan istri, terima kasih kepada akang guide, terima kasih untuk Bang bobi, terima kasih untuk rumputliarku, juga tidak lupa terima kasih kepada Allah SWT untuk selalu memberikan saya kesempatan menikmati alam ciptaanNya.
Kapan kita kemana lagi?
Estimasi biaya:
Term kp. Rambutan- Ciawi= Rp. 10.000/org
Ciawi- term. Sukabumi = Rp. 10.000/org
Term. Sukabumi-lokasi caving= Rp. 250.000 (carter angkot)
Caving+makan= Rp. 200.000/org
Cp:
Kang Inoy 085724469801
Bang Bobi 085781062131
*note
Untuk biaya caving, makan dan carter angkot bisa didiskusikan dulu dengan Kang Inoy ketika booking
Senin, 02 Juni 2014
Anjani, Bukan Hanya Sekedar Mendaki. Tapi Tentang Perjalanan Hati
Ini adalah coretan pertama saya ditahun ini. Setelah beberapa
kali gagal memposting cerita perjalanan yang sebenernya ingin banget di share,
tapi apadaya kalau ujung-ujungnya nyangkut di draft doang. Akhirnya dengan
adanya coretan ini blog saya hidup kembali #takeadeepbreath
Masih tentang perjalanan, tentang pendakian. Tentang mimpi
dan angan-angan. Tentang Anjani, yang bukan hanya sekedar mendaki. Tapi ini tentang
perjalanan hati
Disini saya akan mencoba menceritakan setiap kejadian dengan
cukup singkat jelas dan padat. Berusaha untuk tidak menambah tapi mungkin akan mengurangi.
Tapi ya maaf-maaf aja kalau ada yang keceletot, da aku mah apa atuh hanya
makhluk manis yang berusaha mencoba menulis hahahha
Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih, kepada Allah SWT yang telah memperkenankan saya melakukan perjalanan ini. Ibu dan Bapak saya, yang selalu mendukung setiap kegiatan saya. Kepada Bapak Leader yang dengan senang hati memberikan saya izin cuti selama seminggu haha. Kepada rekan satu tim yang baik hati dan sabar menghadapi saya yang menyebalkan ini sepanjang perjalanan, Team Koyo, Kak Hilwan, Teh Rini, Acun, Cumi, Kang Adam, Kang Deri, Kang Dwi, Ghilman, Abang, Shadam dan Yoss kalian Ruarrrrrrrrr Biasaaaaaa. Sekarang saya tahu kalau kalian begitu menyayangi saya, terimakasih :)
Day 1, 24 Mei 2014 Selamat datang Rinjani
Si burung besi berhasil mengantarkan saya dan ke-12 kawan
lainnya menyebrangi lautan hingga sampailah kami di Pulau Lombok, Mataram. Dari Bandara Internasional Lombok kami masih
harus menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 6 jam untuk mencapai titik
awal pendakian. Saya yang pada saat itu mendapat tugas sebagai sie logistic meminta
sopir elf untuk mampir sebentar ke pasar. Membeli sayuran dan bahan masakan
lainnya untuk keperluan logistik tim kami selama pendakian.
Perjalanan mulai memasuki trek yang berkelok. Kalau diibaratin
di Jawa Barat mah itu teh trek ke Subang, atau mungkin Ciwidey, atau bisa jadi
juga Gentong (tapi gak separahu itu sih). Sepanjang perjalanan kami disambut
oleh puluhan mungkin bahkan ratusan kera. Habitatnya masih asri sehingga para
kera tersebut masih bebas berkeliaran di tempat asalnya. Tujuan kami adalah
pintu sembalun. Sekitar pukul 3 sore waktu setempat tim kami sampai di pos
pintu sembalun. Repacking lalu kemudian mencari mushala. Pukul setengah 5 kamipun
siap untuk trekking. Berdoa dimulai.. .
Saya yang pada waktu itu dalam kondisi yang memang kurang
fit selalu menjadi pejalan terbelakang. Emmm, maksudnya paling belakang. Nafas mulai
ngos-ngosan. Keringet mulai bercucuran. Tapi entahlah, saya selalu merasa bahwa
tim saya sangat amat solid. Saya yang jalan paling lama ditunggui, disemangati,
bahkan sampai tas carielpun mereka bawakan. Menjelang petang kabut mulai turun.
Saya yang memang sebelum berangkat jarang olahraga, gak pernah tc
udah mulai keteteran sama treknya akhirnya ditinggalin sama yang lain menuju
pos1. Tinggallah saya bersama kak Hilwan, Kang Adam, Abang dan Ghilman (ingetnya
cuman itu aja).
Gak bias ngalahin ngantuk. Gak bias ngalahin males. Inilah tujuan
naik gunung. Bukan untuk menaklukan puncak, tapi bagaimana caranya bias menaklukan
ego diri sendiri. Dan belum apa-apa saya sudah merasa kalah :(
Jalan lima langkah langsung ambruk. Dibantuin bangun lagi. Disemangatin
lagi. Ingin tidur lagi. Padahal pos 1 pun belum sampai. Ya allah udah ngerasa
gak kuat. Mual, pusing, dingin, baju basah sama keringet. Tapi akhirnya berkat
kesabaran mereka yang menemani saya akhirnya saya bisa sampai di pos1 dengan
selamat sentausa. Alhamdulillah
Sesampainya di pos1 kami sengaja tidak mendirikan camp,
karena disana terdapat pendopo yang biasa digunakan untuk beristirahat. Saatnya
mengisi perut yang seharian ini dibiarkan kosong. Nasi liwet, sayur sop dan rendang
bekal Kang adam menjadi menu makan malam kami saat itu. Setelah perut terisi
dan selesai beribadah waktunya beristirahat. Malam itu, pos1 sembalun sangat
indah bertabur bintang. Semilir angin tidak membuat tidur saya terusik, justru
membuat saya semakin larut dalam lelap. Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah
yang kamu dustakan?
| sampai di Bandara Internasional Lombok |
![]() |
| tetep eksis di dalam elf |
![]() |
| @basecamp sembalun |
![]() |
| memulai perjalanan |
Day 2, 25 Mei 2014 Nikmatnya bukit penyesalan
Tidur saya semalam cukup lelap. Berharap bisa mengembalikan
stamina saya yang sudah anjlok. Selepas shalat subuh kami menyiapkan sarapan
lalu packing. Menu makan pagi itu cukup sederhana namun ternyata mewah untuk
ukuran masakan di gunung, nasi liwet dan ayam goreng. Tapi ternyata menu seenak
itu tidak membangkitkan nafsu makan saya. Ah, padahal perjalanan hari ini akan
cukup melelahkan. Tapi mudah-mudahan saya bisa melewati hari ini dengan baik, harap
saya.
Setelah selesai packing dan berfoto, kami ber-12 siap untuk
melanjutkan perjalanan. Tujuan kami sekarang adalah plawangan sembalun.
Estimasi waktu sebelum matahari tenggelam kita sudah sampai disana. Tapi
rencana hanya sebuah rencana. Kenyataan fisik ternyata tidak mendukung, khususnya
saya haha.. .
Pukul delapan pagi waktu setempat kami melanjutkan
perjalanan. Saya yang memang merasa sedikit agak lambat dibanding dengan yang
lain mencuri start untuk berjalan lebih dulu (walaupun pada akhirnya tetep
kesusul juga). Pos 2 sudah Nampak dari kejauhan rupanya. Lagu-lagu Fiersha
Besari menemani setiap langkah saya menuju Pos 2. Sementara teman-teman yang
lain asyik dengan nyanyian mereka dibelakang saya. Sesampainya di pos 2
ternyata terdapat warung disamping pendopo. Yang jual ibu-ibu, Nampak mungkin
separuh baya. Saya gak habis pikir gimana ceritanya si ibu bisa melewati trek
hingga sampailah dia berjualan disitu. Ah, jangankan untuk memikirkan itu, saya
sendiri saja sudah repot membawa diri.
Rehat sejenak. Teh
manis panas menjadi pilihan kami, karena rupanya tim kami lupa untuk membawa
teh. Setelah dirasa cukup kami melanjutkan perjalanan. Abang, mengambil
inisiatif untuk membawakan tas cariel saya. Katanya biar jalannya lebih cepat.
Sementara Yoss membawakan tas pinggang saya. Dengan hanya bermodalkan trekking
pole berharap saya bisa berjalan lebih cepat dan tidak tertinggal lagi. Tujuan
kami sekarang pos 3. Trek masih cukup landai dan kadang sedikit menanjak dengan
pemandangan sabana. Bukit-bukit terlihat berjejeran sementara puncak anjani
masih tegak angkuh dikelilingi awan putih.
Saya masih tetap tertinggal dibelakang. Seingat saya waktu
itu saya berjalan ditemani Kang Adam, Ghilman, Yoss, Acun dan Abang yang satu
persatu juga melewati saya. Tersalip beberapa rombongan pendaki yang lain
rupanya tidak memicu kaki saya untuk berjalan lebih cepat. Sesak. Padahal ini
belum apa-apa. Didepan katanya ada 9 bukit yang harus dilewati. Para pendaki
menyebutnya bukit penyesalan, katanya karena kita akan menyesal pernah mendaki
Rinjani. Perlahan. Akhirnya saya sampai di pos3. Sebagian dari kami mengisi
persediaan air untuk bekal di perjalanan. Saya mengambil posisi untuk
beristirahat. As always and usual, saya tidak pernah bisa menahan rasa kantuk.
Sejenak memejamkan mata lalu kemudian melanjutkan perjalanan.
Saya jauh tertinggal dibelakang bersama Kak Hilwan, Kang
Adam, Kang Deri dan Kang Dwi. Kang Adam bilang “ini moment langka, jadi harus
dinikmati setiap waktunya” (kalau gak salah kurang lebih kalimatnya seperti
itu). Santai saja, puncaknya masih disana kok gak kemana-mana. Sesaat saya
merasa senang, sebagai salah satu anggota dari Adam Fans Club bisa melakukan
perjalanan bersama dengan yang bersangkutan (hahaha intermezzo). Tiba-tiba
perut saya berbunyi, cacing-cacing diperut ternyata mulai berdemo. Saat itu
sudah tengah hari. Saya memutuskan untuk mengganjal perut yang lapar ini dengan
buah apel yang saya bawa. Satu buah apel dimakan berlima, nyangkut doang di
tenggorokan, Alhamdulillah.
Benar-benar perjalanan yang santai. 15 menit
berjalan kemudian istirahat, tidur. Terus seperti itu sampai akhirnya kami
menemukan tempat yang benar-benar pewe untuk dijadikan lapak untuk tidur siang.
Sudah tidak terhitung berapa puluh rombongan pendaki yang sudah melewati kami.
Berapa puluh porter juga yang dengan cepat berjalan menuju plawangan. Hanya
dengan memakai sandal japit sambil menanggung beban barang bawaan pendaki, tak
kenal lelah dan malah menyemangati kami. Lelap, nikmat. Bahkan kata Kang Dwi
kami tertidur hingga mendengkur haha.
Bukit penyesalan. Lebih tepat mungkin kalau dikasih nama
bukit penyiksaan. Ya Tuhan ini udah ingin nangis banget kenapa tanjakannya gak
berhenti-berhenti. Kami para pendaki diberi harapan palsu. Dikira udah habis
tanjakannya, ternyata didepan masih nungguin bukit selanjutnya. Sampai di bukit
ke-6, yang katanya ini bukit paling panjang dan ngeselin. Kebukti, perasaan
udah lama banget jalan tapi gak nyampe-nyampe ujungnya. Akhirnya kami
memutuskan untuk shalat dahulu, menjama shalat dzuhur yang sudah terlewat
dengan shalat ashar. Perjalananpun kami
lanjutkan.
Matahari mulai kembali ke peraduannya. Jingga mulai merona. Senja
di Lombok Utara bisa saya saksikan di atas ketinggian ini. Mata kami sedang
dimanjakan, sayang kalau dilewatkan. Beberapa gambarpun kami ambil, moment
langka. Kami merasa berpijak semakin tinggi, tapi saya merasa kalau Anjani semakin
menjauh. Memasuki bukit terakhir, vegetasi lebih rapat oleh pepohonan tinggi. Siapa
bilang kalau bukit ke-6 itu paling panjang, saya rasa bukit terakhir inilah
yang paling melelahkan. Sisa-sisa tenaga saya sudah hampir dibatas maksimalnya
saya rasa. Saya mulai batuk-batuk, udara semakin dingin akhirnya membuat saya
harus memakai jaket. Perlahan saya mencoba untuk terus berjalan, tapi rasa mual
menghentikan langkah saya seketika. Saya muntah. Tidak ada yang keluar selain
cairan lambung. Pahit (tapi lebih pahit mengenang masa lalu kayaknya haha). Saat
itu saya hanya bersama Kang Adam dan Kak Hilwan, yang lain mungkin sudah sampai
camp. Saya terdiam sejenak, tiba-tiba bertanya pada diri sendiri “naik gunung
sampe repotnya sebegini amat ngapain sih diyana?”. Lamunan saya buyar ketika
seorang pendaki bertanya pada Kak Hilwan mengenai kondisi saya saat itu, “kenapa
mas mbaknya? Masuk angin?”, Kak Hilwan mengiyakan. Lalu mas-mas itu berkata
lagi, “dibalur dulu aja, ini saya ada counterpain bias dipakai gak ya?”,
seketika ingin teriak depan mukanya “woy gue muntah-muntah nih bukan keseleo”. Antara
kesel dan ingin ketawa dengernya, tapi ah yasyudalah. Sayapun melanjutkan
perjalanan. Plawangan sembalun kala itu sudah ramai, ramai sekali. Tenda mulai
berjejeran. Senyum saya mulai merekah ketika mulai mendekati camp dan mendapati
teman-teman yang lainnya bercengkrama. Oia, tadi saya dijemput oleh Abang dan
Yoss, mereka bilang “ayo diy bentar lagi nyampe camp, udah disediain makanan
loh banyak”, tapi kenyataannya setelah sampai camp masih pada sibuk masak haha.
Saya langsung nimbrung di camp, masuk tenda lalu rebahan. Membiarkan yang lain
asyik diluar tenda, dan membiarkan Teh Rini masak sendiri. Hehe maaf ya teh. Waktu
makan tiba, tapi saya makan hanya sedikit, masih mual soalnya takut muntah lagi
kalau dipaksakan. Selesai makan kami bercanda, tertawa terbahak, sampai-sampai
di tegor porter tenda sebelah “mas-mas tolong ya jangan berisik tamu saya mau
istirahat” haha. Andai kalian tahu, melakukan perjalanan dengan tim ini tuh gak
pernah bisa nahan ketawa. Malam semakin larut, dingin mulai menyelimuti. Kami harus
segera beristirahat, besok dinihari kami akan melakukan summit attack ke
puncak. “Bawa aku ke puncak yah, seret aja kalau aku udah mulai males jalan”,
pinta saya pada tim. Malam itu saya tidur berdua dengan Teh Rini. Saya bersyukur
sudah bisa sampai disini, bersama mereka. Allah, terimakasih :)
![]() |
| view dari pos 1 sembalun |
![]() |
| sabana sembalun |
![]() |
| jalur trekking |
![]() |
| bukit penyesalan |
![]() |
| porter (bukan porter kami) |
![]() |
| jalur bukit penyesalan |
![]() |
| lautan awan |
![]() |
| senja di sembalun |
Day 3, 26 mei 2014 Gagal Muncak
Pukul satu dinihari kak Hilwan sudah membangunkan kami. Saya
masih larut dalam hangatnya sleeping bag ketika tenda mulai berguncang karena
digoyang-goyangkan. Waktunya summit, tapi entah kenapa saya ragu. Memilih untuk
tetap stay di tenda juga bukan pilihan yang bagus saya pikir, akhirnya saya
memutuskan untuk keluar tenda. Memakai jaket double dan slayer. Bismillah, saat
itu saya berusaha melawan rasa dingin dan kantuk. Dan saya salah, harusnya
jangan dilawan tapi dinikmati.
Pukul dua dinihari kami sudah siap untuk melakukan summit.
Berdoa lalu kemudian ritual pembagian koyo pun dilakukan hahahha. Ghilman, sang
pelopor pemakaian koyo di hidung, biar gak dingin katanya. Kami ber-11 pun
mulai berjalan menyusuri jalan setapak. Abang gak ikut summit, katanya gak enak
badan. Penerangan hanya berasal dari headlamp yang dipakai para pendaki. Dari
kejauhan saya sudah bisa melihat titik-titik cahaya itu mulai merayap keatas.
Ternyata banyak sekali pendaki yang melakukan summit lebih dulu. Baru 15 menit
berjalan saya mulai tumbeng, saya muntah lagi. Seperti biasa tidak ada yang
dapat saya keluarkan dari perut. Saya kesal, saya mulai merasa kalau saya
menghambat perjalanan. Terpikir untuk kembali ke camp, tapi niat itu saya
urungkan. Saya masih ingin menginjakkan kaki di puncak Anjani. Akhirnya saya
mulai berjalan, menapaki jalan setapak yang hanya muat untuk satu orang saja.
Trek mulai menanjak dan berpasir. Saya masih mual. Beberapa kali saya berhenti,
membiarkan rombongan pendaki lain mendahului. Saya mulai tidak bisa menahan
rasa kantuk. Trek menanjak dan berpasir tidak membuat saya kehabisan cara untuk
hanya sekedar merabahkan diri dan memejamkan mata. Saya mulai kelelahan.
Teman-teman yang lain bergerak mendahului saya. Sementara Kang Adam, Kak Hilwan
dan Yoss masih setia menemani saya. Saya tumbeng, mental saya down, ditambah
kondisi fisik saya yang mulai gontay membuat saya semakin malas untuk
meneruskan perjalanan. Maju lima langkah lalu kemudian ambruk, saya tertidur.
“de, bangun de nanti tidurnya diatas aja, tempatnya lebih luas” ucap kak
Hilwan. “bentar ya 5 menit lagi” ucap saya, namun kenyataannya 15 menit
kemudian saya baru bisa bangkit kembali haha.
Saya sudah tidak sanggup, sementara mereka masih tetap
menyemangati saya. “ayo de semangat, tuh puncaknya nungguin diatas”, “ayo na
pasti bisa, semangat!”. Suara-suara mereka masih tetap terdengar tapi kesadaran
saya sudah mulai menurun. Saya sudah enggan berjalan. Setiap melihat tempat
sedikit luas saya langsung merebahkan diri. Saya tahu mereka yang menemani saya
sudah mulai kesal dengan tingkah saya. sampai-sampai Kak Hilwan marah karena
saya kebanyakan tidurnya daripada jalannya. “ayo de jalan lagi jangan tidur
aja, itu nanti diatas ada tempat yang luas kamu bisa tidur sepuasnya nanti
disana”, bujuknya. Saya mengelak, “itu Kang Adam boleh tidur kenapa aku engga”.
Jelas saja, Kang Adam tidur hanya karena saya berhenti dan akan langsung bangun
ketika akan melanjutkan perjalanan, sementara saya sekalinya memejamkan mata
akan sulit lagi untuk bangun ( ya allah maapin baim ya allah ).
Matahari dengan malu-malu mulai menampakkan sinarnya,
sementara saya masih disitu-situ saja. Saya mencoba, saya berusaha untuk tetap
melangkahkan kaki tapi tetap sulit. “ayo dong dek masa kamu kalah sama si ****
bisa nyampe puncak”, ucap Kak Hilwan. Seketika kalimat itu megagetkan saya.
Saya marah, saya kesal. Maksudnya apa dibanding-bandingkan seperti itu, saya
gak suka. “gausah banding-bandingin aku sama dia” teriak saya sambil melengos
meninggalkan. Saya mencoba terus berjalan sembari hati menggerutu. Saya manyun.
Namun ternyata hal itu malah membuat Kak Hilwan dan Yoss menahan tawa mereka,
ppffftttttt.
Pukul setengah enam kami baru sampai di dataran yang agak
luas itu. Saya merebahkan diri lalu kemudian mengambil beberapa gambar. Sekitar
setengah jam kami berempat berdiam. Mengganjal perut dengan sosis dan minum
secukupnya lalu kemudian melanjutkan perjalanan. Porter bilang dari tempat tadi
kami beristirahat masih 3 jam lagi untuk mencapai puncak. Saya gak banyak
mikir, hanya terus berusaha agar kaki saya tetap mau melangkah. Satu jam
berjalan, saya menemukan tempat yang pas untuk tidur (masih tetap tidur menjadi
prioritas utama, heran). “mau tidur dulu boleh ya”, pinta saya kepada yang
lain, akhirnya kami berhenti dan saya mulai merebahkan diri. Dari kejauhan
Abang terlihat sedang berjalan “abaaaaaaaaang”, teriak saya. “sini bang istirahat,
aku mau tidur dulu”, saat itu saya hanya ditemani Abang dan Yoss, sementara
Kang Adam dan Kak Hilwan berjalan meninggalkan kami.
Saya tertidur cukup lama, dan ketika bangun saya merasa
haus. Saya baru sadar kalau semua perbekalan cemilan dan minum dibawa oleh Kak
Hilwan. Sementara Abang dan Yoss sudah tidak mempunyai bekal minum lagi. Saya
merengek, hingga akhirnya Yoss berinisiatif berjalan duluan untuk meminta minum
ke rombongan didepan. “yaudah aku duluan ya, nanti aku ambilin minum ke Kang
Hilwan” ucap Yoss. Saya dan abang meng-iyakan. 15 menit kemudian akhirnya Saya
dan Abang memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Trek mulai semakin menjanjak
dan berpasir. Para pendaki lain mulai turun karena mereka sudah sampai ke
puncak. Di perjalanan saya bertanya ke rombongan pendaki perempuan yang sedang
beristirahat “udah sampai atas mba?” tanya saya. “gak sampai, cuman sampai
puncak bayangan aja yang banyak batu-batunya, gak berani melanjutkan mba
treknya terjal” jawabnya. “kok sayang banget gak sampe puncak” gumam saya dalam
hati (belum tau aja trek didepan macem apa).
Para pendaki sudah banyak sekali yang turun, ketika melihat
Saya dan abang berjalan naik mereka sempat berkata “muncak mba, mas? Siang amat”,
Saya dan Abang hanya tersenyum. Mungkin saat itu waktu sudah munjukkan pukul 8
pagi. Waktu dimana biasanya para pendaki mulai turun dari puncak, sementara
kami masih merangkak naik. Dari kejauhan Yoss yang menggunakan jaket warna
hijau nampak berlari kearah Saya dan Abang. Ditengah kepulan debu Saya dan
Abang berhenti menunggui Yoss, “air minumnya habis gak ada lagi tinggal segini”,
ucap Yoss sembari menunjukkan botol air mineral yang isinya ah mungkin hanya
tinggal satu teguk saja. “yuk lanjut lagi, diatas ada dataran cukup luas”
tambahnya. Saya, Yoss dan Abang berjalan beriringan. Sebari terengah saya mulai
tersenyum ketika mendapati dataran luas yang terdapat gundukan batu, “puncak” pikir
saya., ah tapi bohong ternyata haha.. .
Saya bergegas mendekati tumpukan batu itu, kemudian duduk
selonjoran. Terperangah keatas, puncak ternyata masih sangat jauh. Sementara ketika
tertunduk ke bawah, subhanallah, saya ada diatas awan dan dibawah sana indahnya
danau segara anak terlihat dengan sangat jelas. Sudah setinggi ini tetapi saya
masih belum menggapai Anjani. Nafas saya terengah, detak jantung saya cepat
sekali. Saya, Yoss dan Abang duduk bersantai. Hanyut dalam pikiran
masing-masing. Saat itu juga saya memutuskan untuk tidak melanjutkan menuju
puncak. Sampai sini saja saya rasa sudah cukup. Saya tidak mau berambisi dan
menuruti egoism saya untuk tetap mencapai Anjani sementara saya tidak adil
dengan fisik saya. Selain itu saya akan lebih menyusahkan yang lainnya kalau
saya memaksakan diri untuk tetap ke puncak. Walaupun Yoss dan Abang
menyemangati saya pada saat itu, Saya malah menyuruh mereka untuk tetap
melanjutkan. Tidak adil untuk mereka kalau harus menunggui saya disitu. Mereka pasti
ingin sampai ke puncak. “kalian lanjutin aja sampe ke puncak, aku nunggu disini
aja gak apa-apa kok” ucap saya. “moal ah urang mah, didieu weh geus indah (gak
ah aku mah, disini juga sudah indah) ucap Abang.
Akhirnya Yoss melanjutkan perjalanan ke puncak, meninggalkan
Saya dan Abang berdua. Saya haus, sementara bekal minum sudah habis. Disamping saya
ada dua orang warga asing yang sedang beristirahat, mungkin habis dari puncak. Dibelakang
mereka ada lelaki paruh baya mengikuti, sudah bisa ditebak itu pasti porternya.
Saya ragu mau menyapa, saya hanya tersenyum tipis. Tapi saya haus, akhirnya
saya memberanikan diri untuk menyapa bapak porter dan meminta sedikit air minum
yang dibawanya. Alhamdulillah bisa minum juga walau seteguk dua teguk. Saat itu
banyak sekali warga asing yang mendaki Rinjani. Keeksotisan gunung ini ternyata
banyak menyita perhatian mereka yang rela jauh-jauh pergi dari negaranya untuk
menyambangi Anjani. Saya sedikit iri dengan kekuatan fisik mereka. Selama mendaki
tak sedikitpun keringat bercucuran saya lihat. Senyum selalu merekah di wajah
mereka yang cantik dan tampan. Biarlah, biar mereka tahu bahwa Negara saya ini
tidak kalah cantiknya dengan wajah-wajah mereka karena memiliki Anjani.
Selang beberapa menit setelah Yoss pergi ternyata Kak Hilwan
datang, berlari kecil dari atas menuju tempat Saya dan Abang berdiam. “udah
janji sama dia kalau dia gak muncak aku juga gak akan muncak” ucapnya sambil
menunjuk saya ketika Abang bertanya kenapa turun lagi. Saya tersenyum simpul,
ternyata dia masih ingat dengan janjinya. Akhirnya kami bertiga sibuk
masing-masing. Saya sibuk dengan kertas-kertas tulisan titipin adik saya. Jepret
sana jepret sini dan akhirnya saya memutuskan untuk turun ke camp sementara
Abang lebih memilih menunggui teman yang lain turun dari puncak. Kaki saya
mulai pegal, trek menurun yang harusnya bisa dilalui dengan berlari kecil saya
lewati dengan berjinjit sedikit. Saat itu cuaca cukup terik, ditambah debu dari
pasir membuat pengap. Jalur mulai sepi pendaki, hanya beberapa saja yang turun dan
ternyata ada beberapa juga yang naik. Kak Hilwan memutuskan untuk mampir ke
sumber air untuk mengambil persediaan air, kami akan memasak. Sementara saya
memilih lanjut berjalan ke camp karena sudah tidak tahan ingin beristirahat. Namun
dijalan ternyata saya bertemu dengan rombongan Maisa, saya tersenyum lalu
meminta minum haha (gak kuat haus banget). Team mereka sedang packing, katanya
mau menuju segara anak. Saya belum sampai camp, Kak Hilwan sudah datang. Akhirnya
kami berpamitan, berpisah dan berjanji bertemu nanti di segara anak.
Saya dan Kak Hilwan menuju camp. Lalu kemudian melemparkan
diri kedalam tenda, lelah sekali rasanya waktu itu. Padahal saya gak sampai ke
puncak. Saya lapar, Kak Hilwan akhirnya membuatkan mie goreng untuk saya. Lalu saya
tepar entah untuk berapa lama hingga akhirnya Cumi dan Shaddam datang. Hari mulai
sore, teman-teman yang lain belum juga turun. Ada rasa khawatir takut terjadi
sesuatu pada mereka, tapi saya berpikir positif saja, Allah pasti menjaga
menjaga mereka. Selepas ashar saya memutuskan untuk memasak. Agar saat team
turun mereka bisa langsung makan dan beristirahat. Saat itu di kantong logistik
masih terdapat sayuran, menu makan saat itu saya buatkan capcay dan dendeng. Oia,
saya juga membuat goreng bakwan yang ternyata laku banget loh. Akhirnya sekitar
pukul setengah 5 sore team sampai di camp, Alhamdulillah. Senang rasanya
melihat mereka, walaupun terlihat lebih gelap dari sebelumnya karena pasti
mereka terbakar matahari haha. “nyampe puncak teh?” Tanya saya pada Teh Rini. “Alhamdulillah
sampe” jawabnya sumringah. Ada rasa sesal kenapa saya gak bisa ke puncak, tapi
ahsyudalah lain waktu pasti bisa insya allah.
Merekapun satu persatu makan, senang rasanya melihat masakan
saya dinikmati. Rencananya hari itu kami akan melanjutkan perjalanan ke segara
anak. Tapi kondisi tidak memungkinkan. Akhirnya kami memutuskan untuk menginap
lagi semalam di plawangan sembalun dan melanjutkan perjalanan besok. Malam itu
kembali hening, team memilih untuk istirahat lebih cepat. Saya tahu bagaimana
lelahnya mereka hari ini. Hari ini berlalu sangat cepat. Saya gagal
menginjakkan kaki di Anjani, tapi saya berhasil menaklukan ego saya untuk
tidak memaksakan muncak hehe (tahu diri soalnya sikond gak memungkinkan banget)
Day 4, 27 Mei 2014 Menuju Segara Anak
Pukul 4 subuh kami sudah selesai packing. Kami akan
melanjutkan perjalanan ke Segara Anak. Danau diatas ketinggian 2000mdpl.
Menurut pendaki lain, hanya butuh waktu 3j am untuk mencapai kesana dari
Plawangan Sembalun. Selepas shalat subuh kami bergegas meninggalkan Plawangan
Sembalun menuju Danau Segara Anak. Tak lupa tempelan koyo di hidung yang
menjadi khas dari team kami, haha.
Perlahan kami menyusuri jalan setapak. Udara scukup dingin
sehingga mengharuskan saya memakai celana double dan jaket serta slayer. Trek
menurun dan berbatu. Kami harus hati-hati agar tidak tergelincir dan terjatuh.
Jalur turun menuju Segara Anak ini cukup jelas. Kita hanya tinggal mengikuti
jalan setapak berbatu dan jangan coba untuk melenceng darisitu. Jalur juga
sudah berupa tangga yang disusun dari batuan. Memang cukup curam dan berbahaya,
namun dijalur ini sudah disediakan pegangan dari besi disetiap sisi. Ketika
hari mulai terang saya mulai kegerahan sehingga saya harus melepaskan celana dan
jaket saya sementara yang lain sudah jauh jalan didepan. Seperti biasa, Yoss
dan Abang selalu setia menemani saya, juga Teh Rini yang pada saat itu sudah
mulai merasa kakinya sakit berjalan lebih lambat dari biasanya, kami berempat
berada jauh dibelakang.
Saya sangat menikmati perjalanan ini. Selain mata saya
dimanjakan dengan keindahan Rinjani, saya juga bersyukur saya bisa melakukan
perjalanan ini. Ditambah dengan mereka-mereka yang menemani saya. Saya
bersyukur karena tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan untuk melakukan
perjalanan ini. pagi itu cukup cerah, mentari mengiringi setiap langkah kaki
kami. Perjalanan dari Plawangan Sembalun menuju Segara anak saya rasa cukup
menyenangkan. Dengan celotehan dan candaan saya dengan Abang yang saya rasa
sudah lama kami tidak seperti ini. trek mulai landai, namun cukup membuat hati
kesal karena ternyata treknya panjang dan memutar. Segara anak sudah terlihat,
kami senang bukan kepalang. Saya mencoba berlari-lari kecil walau pada akhirnya
kelelahan juga. “surga” ucap saya dalam hati. Melihat keindahan didepan mata
saya seperti ini bagaikan mimpi. Kok ada ya tempat semacam ini. Allah,
terimakasih.
Tepat pukul Sembilan saya, Abang, Teh Rini dan Yoss sampai
di Segara Anak. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Disana saya melihat
rombongan Maisa sedang packing, mereka mau melanjutkan perjalanan turun. Say
hai sebentar lalu kemudian pamit untuk menuju camp kami. Posisi camp kami
sangat strategis. Pemandangan danau yang indah Nampak jelas apabila kita
berdiam diluar tenda. Mattress saya gelar, lalu mulai merebahkan diri. Saya
bahagia. Berada ditempat seindah ini bersama dengan mereka. Siang itu kami
bersantai, karena memang tidak terlalu dikejar waktu. Besok subuh kami baru
akan turun menuju Plawangan Senaru. Kak Hilwan, Yoss, Shaddam dan Cumi mereka
sibuk membuat pancingan. Danau segara anak katanya ikannya banyak, maka mereka
berniat untuk memancing. Abang sibuk membuat jemuran. Saya, Teh Rini dan
sebagian lainnya menyiapkan logistik untuk makan siang. Saat itu persediaan
logistik kami hanya tinggal telur, kentang, biihun, wortel, kol, dan beberapa
bungkus mie instan. Kami harus mengatur strategi agar logistik sebanyak itu
cukup sampai besok siang. Akhirnya siang itu kami memutuskan untuk memasak
kentang balado dan telur dadar. Oia, saya lupa kalau beberapa teman lain ada
yang sedang memancing, saya harap ada beberapa ikan yang bisa mereka tangkap
untuk lauk kami makan.
Ketika saya dan teman lainnya sedang memasak, tiba-tiba
dikagetkan oleh teriakan Cumi. “asik oyyy asiiikkk dapet ikan banyak”. Saya dan
Teh Rini bertatapan, kami sepemikiran, nanti malam kita akan bakar ikan.
Kemudian Fahmi muncul dari balik tenda sembari memegangi botol aqua gelas lalu
memperlihatkan kepada kami “nih liat dapet ikan banyak”, ucapnya dengan bangga.
Baby fish. “cumiiiiiiiii kirain beneran dapet ikan banyak” teriak saya. “ini
juga banyak kan” balasnya. Seketika kami semua tertawa terbahak karena kejadian
itu. Sedikit kecewa karena ternyata yang didapat hanya baby fish, gagal deh
bakar-bakar ikan nanti malam. Namun akhirnya baby fish itu kami goreng,
disantap bersama bakwan yang kami buat. Kami juga membuat pudding loh, pudding
coklat leci ditambah fla. Hmmmm yummy.
Siang itu kami makan lahap sekali. Walaupun dengan nasi dan
lauk seadanya rasanya sangat nikmat. Ditambah dengan pemandangan yang indah
membuat kami merasa sedang bertamasya (emang bener rasanya kayak lagi piknik).
Setelah makan kami menghidangkan menu mepncuci mulut. Pudding coklat leci
diguyur dengan fla sudah terbayang dipikiran saya, tapi semua itu buyar ketika
fla yang ada di gelas tumpah mengenai mattrass. Entah siapa pelakunya tapi yang
pasti membuat kami memakan pudding layaknya memakan awug, dicomot (awug adalah
sejenis makanan khas sunda yang terbuat dari tepung beras ditambah gula merah
dan kelapa parut). Saling mengolesi muka dengan tumpahan fla, tawa kami saat
itu sangat lepas sehingga menarik perhatian oranglain ahahahahha.
Selesai makan kami siap untuk berfoto. Mengabadikan moment
kebersamaan kami. Dan kegilaan-kegilaanpun dimulai. Nampak hari itu kami sangat
bahagia sekali. Selalu saja ada hal yang membuat kami tertawa. Selepas ashar
para lelaki memutuskan untuk mandi ke sumber air panas. Sementara saya dan Teh
Rini memutuskan untuk tetap berdiam di tenda. Saya dan Teh Rini merasa masih
lapar, akhirnya tanpa sepengetahuan para lelaki yang sedang asyik berendam air
panas itu kami berdua membuat mie goreng super pedas ahahahhaha (kualat,
besoknya Teh Rini mencret-mencret).
Sebelum maghrib mereka sudah kembali ke camp. “ah na kamu
nyesel gak ikut ke air panas, ada air terjun bagus hayoh” ucap Yoss. Kalau dipikir
sayang juga sih gak kesana, udah mah gak sampe puncak, gak nyobain sumber air
panas juga, tapi ahsyudalah. “ialah nanti aja lagi kalau kesini, haha” balas
saya. Setelah shalat maghrib kami berkumpul di depan tenda. Abang sebagai
divisi penyuluhan a.k.a perapian sudah siap dengan tugasnya, tadi sore dia
sudah berhasil mengumpulkan ranting-ranting pepohonan untuk api unggun. Malam itu
kami berkumpul, bercerita, bercanda sambil menyiapkan untuk makan malam. Malam itu
kami harus menerima kenyataan kalau menu makan malam hanya dengan omelet mie
telor saja. Setelah selesai makan kami membagi tugas untuk beres-beres, ada
sebagian yang mengambil persediaan air, ada yang mencuci peralatan masak
sementara saya dan Teh Rini menyiapkan makanan untuk bekal besok. Membuat pudding
dan membuat bihun goreng. Perapian mulai padam. Gelap. Kami semua masuk ke
tenda masing-masing untuk beristirahat. Ini malam terakhir di Rinjani, besok
kami akan turun melalui jalur Plawangan Senaru menuju pemukiman penduduk.
![]() |
| view menuju segara anak |
![]() |
| segara anak dari jalur |
| jalur menuju segara anak |
![]() |
| jalur menuju segara anak |
![]() |
| kayak ranukumbolo ya? |
![]() |
| jembatan menuju segara anak |
![]() |
| segara anak |
![]() |
| danau segara anak |
![]() |
| selfie sukaesih |
![]() |
| another part of crazy |
![]() |
| eksis di segara anak |
Day 5, 28 Mei 2014 Turunan Yang Menanjak
Seperti biasa, team kami selalu melakukan perjalanan selepas
subuh. Usai shalat subuh dan packing kami bersiap untuk meninggalkan Segara
Anak. Semua barang-barang yang dirasa akan memberatkan saya titip pada teman
yang lain, begitu juga dengan Teh Rini. Cariel kami dibiarkan ringan agar tidak
terlalu kesulitan menghadapi medan perjalanan nanti. Sekitar pukul 5 pagi kami
beranjak pergi. Meninggalkan Segara Anak yang pada saat itu masih banyak sekali
tenda berdiri. Kami mulai berjalan persis di tepi danau. Melewati jalan setapak
yang berbatu. Orang bilang jalur lewat sini curam sekali, makanya banyak yang
lebih memilih jalur turun kembali ke Plawangan sembalun. Sebelum melewati trek
yang menurun, kami harus melewati trek yang menanjak dahulu. Dari ketinggian
2000mdpl kami harus menanjak menuju ke ketinggian 2700mdpl, lalu kemudian trek
menurun. Tidak mau melewatkan detik-detik terakhir perjalanan kami habiskan
dengan banyak bercanda, sehingga lebih banyak istirahatnya daripada jalannya.
Tiga
jam berjalan kami sampai disebuah dataran yang banyak bongkahan batu. Seperti situs
megalitikum gunung padang yang berada di Cianjur. Bongkahan-bongkahan batu itu
berserakan. Indah. Ah sayang, handphone saya ditaruh didalam cariel sehingga
saya tidak bisa mengabadikan atas apa yang saya lihat sekarang. Benar-benar
sangat indah.
Sekitar 15 menit kami beristirahat. Perjalananpun dilanjutkan.
Shaddam dan Kak Hilwan memilih berjalan lebih dahulu, dan akan menunggui kami
di Plawangan Senaru. Kang Adam dan Kang Deri menyusul dibelakangnya, lalu
kemudian Saya, Abang Teh Rini, Yoss, Acun, Ghilman, Cumi dan Kang Dwi
dibelakang. Jalur menuju Plawangan Senaru sangat curam. Jalan setapak yang
hanya muat untuk satu orang berjalalan dengan trek berbatu dan persis jurang
disamping kiri. Kami harus ekstra hati-hati karena kalau sudah jatuh tamatlah
riwayat kami. Terkadang trek cukup landai tetapi terkadang trek menjadi sangat
curam sekali sehingga mengharuskan kami melakukan bouldering (teknik memanjat
bebas). Hanya dijalur trek Senaru ini saya mendapati tangga besi. Berterimakasihlah
kalian para pendaki kepada pihak pemerintah Lombok yang dengan senang hati
membuat nyaman jalur trekking.
Sekitar 30 menit menuju Plawangan Senaru kami mendengar
suara-suara teriakan dan menyemangati. Sumber suara ternyata berasal dari para
porter yang memang sengaja membawa pengeras suara. Sesekali mereka memutarkan
lagu yang kami tidak mengerti bahasanya. Itu cukup menyenangkan, dan membuat
kami lebih semangat berjalan. Oia, diperjalanan kami seringkali berpapasan dengan
warga asing, dan saling menyapa. Hal itu malah menjadi bahan bercandaan kami,
karena kami menjadi berbicara menggunakan Bahasa Inggris sekenanya sepanjang
jalan.
Sekitar pukul sebelas kami sampai di Plawangan Senaru. Siang
itu cukup terik, panas menyengat sekali. Tapi pemandangan dari atas sini
sungguh luar biasa, subhanallah. Segara Anak dan Gunung Barujari Nampak terlihat
jelas dari atas sini. Tidak ingin melewatkan momen berharga ini segera kami
mengeluarkan kamera masing-masing lalu kemudian berpose. Setelah itu kami
makan. Makan siang sederhana namun nyatanya sangat special. Menunya hanya satu
mangkuk bihun goreng yang saya buat semalam. Ditambah desertnya pudding coklat
dan buah nanas. Nikmat sekali. Oh, di Plawangan Senaru ternyata banyak monyet
berkeliaran loh. Mereka gak ganggu kok, baik.
Persis tengah hari kami melanjutkan perjalanan. Dari sini
trek yang kami lalui mulai menurun. Trek berpasir sampai dengan Pos 3. Di trek
menurun ini saya cukup lincah haha, maksudnya lebih cepat daripada menanjak
(yaiyalah), meninggalkan Teh Rini dibelakang. Dari Pos # sampai akhir
vegetasinya mulai rapat, teduh karena pohon-pohonnya tinggi. Pukul 3 sore kami
baru sampai di Pos 2, sengaja istirahat lama disini karena terdapat sumber air.
Lalu melanjutkan perjalanan sampai di Pos extra. Kami memutuskan untuk berhenti
lagi untuk shalat. Di Pos extra kami bertemu dengan pendaki lain, bapak-bapak
paruh baya dengan anaknya berdua. “dulu saya dosen, tapi pensiun muda karena
terlalu banyak diprotes oleh mahasiswa saya. Kebanyakan ngetrip soalnya
daripada mengajar, ini anak saya yang paling besar, masih kuliah di Jogja”
ceritanya kepada kami sambil menunjuk putranya yang duduk disebelahnya. Kami hanya
angguk-angguk mendengar cerita si bapak yang sudah bepergian kemana-mana. Sempat
saya berpikir “kelak nanti saya akan ajak anak juga dalam perjalanan saya”. Kami
juga bertemu dengan seorang bapak yang hanya melakukan trip ini sendiri, berdua
dengan porternya. Beliau tidak mendaki menju puncak, hanya sampai di danau
saja. “iseng aja lagi libur pingin main ke danau”, tuturnya. What? Menuju Segara
Anak beliau hanya bilang iseng? Asik sekali rupanya menjadi bapak-bapak seperti
itu. Beliau juga meng-imami kami shalat tadi. Senang bertemu dengan anda pak.
Waktu itu tim yang tersisa dibelakang hanya Saya, Abang, Teh
Rini, Yoss, Ghilman dan Kang Deri. Yang lain sepertinya sudah sampai sementara
kami berenam masih diperjalanan. Candaan dan teriakan teriakan kami lontarkan. Ghilman,
pada saat it uterus berkicau tetntang keinginannya kalau nanti sudah sampai
kota, makan bakso bening pedes ditambah cuka. Yoss ingin memborong semua
minuman dingin yang ada di indomaret. Kang deri ingin makan di Kfc Bandara. Teh
Rini ingin makan bakso yang pedes. Dan saya juga ingin sekali bakso pedas
ditambah es kelapa. Sluuurrrpppppp. Menuju
Pos 1 kurang lebih 30 menit, istirahat sebentar lalu melanjutkan perjalanan. Headlamp
mulai kami nyalakan. Trek dari Pos 1 menuju pintu Senaru cukup landai. Sekitar 100
meter menuju pintu keluar, ternyata kami disusul oleh Kang Hilwan dan Kang Adam
dengan membawakan teh manis. So sweet sekali mereka rupanya. Disitu terdapat
pendopo, warung dan kamar mandi. Tim sudah berkumpul semua sekarang. Alhamdulillah.
Setelah shalat maghrib kami melanjutkan lagi perjalanan. Masih harus berjalan
ternyata, karena masih jauh untuk menuju pemukiman. Saya berjalan paling
belakang, ditemani oleh Yoss. Jalanannya sangat gelap dan ternyata masih sangat
jauh. Sempat merengek ingin menangis karena gak sampai-sampai tapi malu ahaha,
ditambah jempol kaki yang mulai terasa lecet, membuat saya berjalan lambat
sekali seperti keong. “gak berasa ya Yoss ini malem terakhir kita disini” ucap
saya memecahkan keheningan. “ia gak berasa, cepet banget ya” timpalnya. Sembari
mengobrol akhirnya kami sampai di pemukiman, sudah ditunggu oleh semua tim dan
sudah dijemput juga oleh angkutan yang akan membawa kami ke homestay. Semua barang
dinaikan ke pick up, kami naik lalu kami diantarnya ke homestay milik Pak
Nursaat. Sebuah ruangan berukuran sekitar 4x3m, kami taruh semua barang dan
kemdudian berleyeh-leyeh. Ternyata kami sudah disediakan makan oleh tuan rumah.
Alhamdulillah, malam itu kam makan enak pakai piring ahahhaha. Selesai makan
kami sibuk sendiri-sendiri. Ada yang langsung tidur, ada yang bermain gadget,
ada yang mandi, ada juga yang sedang mengingat masa lalu ahahhaha.
Malam itu adalah kali pertama saya mandi tengah malam, tepat
jam 12. Tapi gak berasa dingin, yang ada hanyalah kesegaran wkwkwkkwk. Ini adalah
malam terakhir saya di Lombok. Berhubung saya tidak bisa ikut yang lain untuk
melanjutkan liburan ke pantai. Saya senang dengan perjalanan ini. Enam hari
lima malam bersama mereka begitu cepat berlalu. Banyak sekali pelajaran dan
kenangan yang saya dapat. Maaf terlalu banyak merepotkan kalian. Maaf karena
telah menyusahkan. Terima kasih untuk kebaikan, kesabaran, dan pengertian
kalian kepada saya. Saya gak akan pernah lupa. Terima kasih telah menjadi
bagian dan saksi di perjalanan saya kali ini. mudah-mudahan masih ada
perjalanan selanjutnya yang bisa kita lakukan bersama. Terimakasih. Malam terakhir
ini kami tidur dilantai dan atap yang sama. Rasanya enggan menuju hari esok
karena saya akan berpisah dengan mereka. Ayah bilang, “Tenang saja, perpisahan
tak menyedihkan, yg menyedihkan adalah, bila habis itu saling lupa”, please
jangan lupa sama aku ya gaiss. Aku yang pernah nyusahin dan bikin kalian kesel
ahahahhaha
![]() |
| tangga besi di jalur senaru |
![]() |
| jalur menuju plawangan senaru |
| monyet di plawangan senaru |
![]() |
| ini yang disebut kebersamaan |
| kalian harus kesinii, gak akan nyesel |
![]() |
| trek turunan menuju pintu senaru |
| view segara anak dari plawangan senaru |
Day 6, 29 mei 2014 saatnya tubbie berpisah
Pagi itu, setelah sarapan pagi kami siap diantar oleh Pak
Udin menuju Bandara (saya, Kang Adam, Teh Rini dan Kak Hilwan). Sementara yang
lain akan diantar ke pelabuhan bangsal karena akan langsung menuju ke Gili
Trawangan. Tidak banyak yang kami lakukan di dalam elf, hanya tertidur dan
sesekali mengomentari foto-foto yang sedang dilihat. Pukul 9 pagi kami sampai
di Bangsal. Waktunya tubbie berpisah, aaahhhhh sedih deh gak bisa ikut mantai. Perjalanan
dilanjutkan, hanya kami berempat ditambah Pak Udin sebagai supir dan anaknya. Mampir
sebentar untuk sekedar membeli buah tangan lalu kemudian tancap gas menuju
bandara. Pukul setengah 12 kami sampai di bandara, pamit kepada pak udin lalu
kemudian pergi. “teh kita ngebakso yuk” ajak saya kepada Teh Rini ketika
melewati tempat makan di bandara. Akhirnya keinginan saya tercapai, bakso dan
es kelapa hahahhaha.
Lombok terima kasih untuk 6 hari ini. Rinjani terimakasih
untuk perjalanan hati ini, dan team koyo, terima kasih banyak kalian Ruar
Biasaaaaaa. Seberapapun uang yang dikeluarkan, tidak akan bisa membayar
kebahagiaan yang saya dapat sekarang.
see u at the next diyana on vacation guys :)
Langganan:
Postingan (Atom)













.jpg)


































































