Blogroll

Rabu, 01 Juli 2015

sekilas cerita tentang seorang perempuan multitasking :)




Assalamu'alaykum.. .
Marhaban Yaa Ramadhan.. ..
Selamat menjalankan ibadah puasa untuk teman-teman sekalian.

Memasuki hari sepuluh ke-dua pada Bulan Suci ini baru sempet nulis lagi. Disibukkan dengan berbagai macam kegiatan yang lumayan menyita waktu dan pikiran membuat saya mengabaikan blog ini. Dan baru sekarang sempat corat-coret lagi.

Kegiatan dikampus dan pekerjaan saya benar-benar menyita waktu. Saya hampir tidak punya waktu untuk sekedar "me time". Satu minggu yang lalu saya baru saja menyelesaikan progran Kuliah Kerja Nyata Mandiri (KKNM) dari kampus saya. Membuat saya harus pergi bolak-balik Tangerang-Bandung setiap weekend. Alhamdulillah saya bisa menjalani dan melewatinya, walaupun agak sedikit keteteran juga sih. Dan beberapa hari yang lalu saya baru saja selesai Ujian Akhir untuk smester 6 ini. Sekarang yang akan saya hadapi adalah Praktek mengajar, berhubung saya kuliah mengambil jurusan keguruan pada smester  ini kami akan melakukan praktek mengajar di sekolah menengah. (Padahal gak pernah kepikiran buat jadi guru, aku kan galak :'>). Belum lagi Seminar dan Sidang Proposal untuk menyusun Skripsi, tahun terakhir perkuliahan ini akan banyak menyita waktu dan tentu saja menguras dompet.

Sedikit cerita tentang perkuliahan saya, mengapa saya megambil keguruan, mengapa saya harus pulang pergi Tangerang-Bandung utnuk mengikuti perkuliahan, juga mengapa saya tidak mengambil kuliah di Tangerang.

Tepatnya pada tahun 2010, ketika saya mulai bergabung dengan perusahaan tempat saya bekerja sekarang, ketika belum lulus dari sekolah menengah dan saya harus merantau di kota orang. Sharing dengan teman untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke perguruan tinggi, dan akhirnya memutuskan untuk mengambil perkuliahan dengan jadwal kelas karyawan di Bandung. Dan kenapa juga saya mengambil jurusan keguruan? Teman saya bilang kalau jadi guru itu waktu luangnya banyak, kamu gak mungkin kerja disini terus. Nanti kalau kamu jadi guru kamu akan punya banyak waktu untuk mengurus suami dan anak jika kamu sudah menikah nanti. begitulah kira-kira yang disampaikan teman saya. Hingga akhirnya setelah mempertimbangkan semuanya saya terdaftar sebagai salah satu mahasiswa kelas karyawan di salah satu Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan di bandung, tempat tinggal saya. Dan kenapa pula harus mengambil kuliah di Bandung sementara saya bekerja di Tangerang? Alasan pertama adalah agar saya bisa sering pulang ke rumah, dan yang kedua adalah saya tidak mau lama-lama tinggal dan bekerja di Kota ini.

Berpuluh lamaran saya sebar pada perusahaan-perusahaan yang ada di Bandung. Mengikuti tes dan wawancara pun saya lakukan. namun hasilnya masih nihil. Belum ada satu perusahaanpun yang menerima saya sebagai pegawai. Akhirnya saya masih harus stay disini, di Tangerang. Dengan alasan kalau saya harus resign nanti bagaimana saya harus membayar biaya kuliah dan kebutuhan sehari-hari saya. Saya sudah malu untuk meminta dan mengandalkan orang tua.

Akhirnya saya menjalani kuliah sambil kerja di 2kota berbeda.Ketika Senin-Sabtu saya harus menjadi karyawan di Tangerang, Pada hari minggu saya harus pulang ke Bandung untuk menunaikan kewajiban saya sebagai seorang mahasiswa. Sebenarnya jadwal kuliah saya itu Jumat, Sabtu dan Minggu. namun selama ini saya mensiasati jadwal kuliah edngan kerja bergantian. maksudnya, kalau saya harus masuk kuliah terpaksa saya harus izin bekerja. begitupun sebaliknya, ketika saya tidak bisa izin bekerja terpaksa saya harus bolos kuliah. Begitulah selama 3 tahun ini, hingga IPK saya tidak bisa melebihi 3 karena absen saya bolong-bolong. mahasiswa macam apa? Tapi memang begitu , harus ada yang dikorbankan ketika saya masih ingin melakukan keduanya. Saya tidak bisa serakah dengan menginginkan nilai kuliah yang bagus tanpa harus banyak izin bekerja, itu tidak akan mungkin bisa. But, i enjoyed it.

Hingga pada akhirnya  sampai sekarang saya sudah melewati ramadhan ke-6 saya di Kota ini. melewati perkuliahan saya hingga tahun ke tiga smester-7. Juga pada akhirnya sampai saya menikah saya dan suami tinggal bersama disini, di Kota ini, dan saya masih bekerja di persusahaan yang sama.

Yapppp, dan sekarang saya mempunyai 3 status. Sebagai karyawan, sebagai mahasiswa dan juga seorang istri. What amazing huh? perempuan emang multitasking kan? hehe (ternyata bukan smartphone aja yang bisa multitasking, perempuan apalagi)
Alhamdulillah saya bisa melakukan ketiganya. Menyelesaikan pekerjaan, mengerjakan tugas kuliah, dan mengurus suami adalah aktivitas saya sekarang. Ketika dirumah saya menjadi ibu rumah tangga, mengurus segala kebutuhan suami. Dari mulai menyiapkan pakaian sampai hidangan makanan. namun ketika di kantor saya adalah seorang karyawan, yang kadang suka menelantarkan pendingan pekerjaan demi pulang cepat kerumah karena suami sudah menunggu (maaf). Dan ketika akhir pekan menjelang dengan berat hati saya harus meninggalkan suami mengurus keperluannya sendiri karena saya harus pulang ke bandung untuk kuliah.

 Kok gak keluar kerja aja sih? Hmmm, sempet kepikiran tapi kayaknya sekarang belum waktunya. Suatu hari nanti ketika benar-benar dirumahkan (jadi ibu rumah tangga seutuhnya) pasti bakalan ngerasa kangen sama kesibukkan seperti ini. Jadi, sekarang sih masih nikmatin aja. Walaupun kadang-kadang masih suka ngeluh. Ya wanitawi lah yaa..

Dari sini saya menyadari satu hal. Bahwa segalanya telah ada yang mengatur. Saya mempunyai rencana, saya juga sudah berusaha, tapi tentulah Allah sebaik-baiknya pembuat rencana untuk kita. Sebesar apapun usaha saya untuk meninggalkan kota ini, untuk mencari rezeki di kampung halaman, dekat dengan keluarga, namun tetap pada akhirnya Allah memberikan saya rezeki masih dari tempat ini. maka, nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?

Terlebih saya sangat menikmati peran saya sekarang ini. Bukan hal yang mudah memang, tapi bukan halangan juga untuk berusaha melakukan yang terbaik untuk masing-masing peran. Alhamdulillah, suamipun tidak banyak menuntut ini itu, bahkan mendukung semua kegiatan yang saya lakukan. Walau kadang terpikir untuk menyuruh saya berhenti bekerja, tapi dia selalu bilang "yaudah gak apa-apa kalau mau kerja, lagian dirumah juga gak ada kegiatan kan", kakang bilang gitu. Juga sekarang-sekarang sedang buming sekali pembicaraan antara Working Mom Vs Fulltime Mom, atau Working Wife Vs Fulltime Wife, semuanya tergantung yang menjalani, semua ada porsinya kok.
Yaappp, semangat buat para perempuan-perempuan multitasking :)


Selasa, 14 April 2015

tentang takdir.. .




yang kita tahu, mereka belum menikah sehingga kita merasa berhak bertanya mengapa mereka belum menikah.. .
yang kita tidak tahu, mereka sedang memperjuangkan sesuatu.
yang kita lupa, jodoh adalah misteri yang ditulis sendiri oleh Tuhan.

yang kita tahu, mereka belum dikaruniai anak sehingga kita merasa berhak bertanya mengapa merekabelum memiliki keturunan.. .
yang kita tidak tahu, mereka sedang memperjuangkan sesuatu.
yang kita lupa, rezeki berupa anak adalah pemberian Tuhan, jika Tuhan belum berkehendak maka sekuat apapun manusia berusaha, jika memang belum waktunya, ya belum waktunya.

Satu hal pasti menjadi dewasa adalah, manusia cenderung menyimpan masalah sendiri, manusia akan cenderung menutup emosi mereka dengan khalayak. Manusia akan cenderung menampakkan hal yang baik-baik saja. Itulah perubahan, apabila ketika bayi manusia bebas menangis depan umum, semakin tua hal tersebut menjadi tidak mungkinterjadi bukan? Semakin tua, manusia akan semakin menutupi apa yang cenderung membuatnya sedih dan menampakkan kondisi baik-baik saja. Seharusnya ini cukup menjadi bekal untuk berhenti bertanya mengenai takdir Tuhan.

Apa yang bisa disimpulkan? Kita tidak tau kondisi yang sedang dialami lawan bicarakita.. . hingga kita sampai pada fase tersebut. Banyak orang berdalih bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut ya anggap saja doa. Tapi banyak pula yang lupa bahwa doa yang paling tulus adalah mendoakan diam-diam.

Banyak celetukan-celetukan yang tanpa sengaja akan menjadi beban pikiran bagi yang mendengar. Seperti,
"kapan nikah?"
"udah isi belum?"
atau bahkan, "kapan lulus?"
Pertanyaan seperti itu kadang hanya ditanggapi dengan "doain aja", padahal didalam hati itu akan menjadi pikiran yang serius. Kita tidak pernah tahu bagaimana perjuangan mereka untuk menyegerakan hal tersebut. Menikah, memiliki momongan, bahkan untuk lulus kuliah itu adalah sesuatu yang memang benar-banar diperjuangkan. Siapa yang mau menikah pada usia lanjut? Atau  belum juga memiliki momongan selepas menikah?  juga siapa yang ingin menunda-nunda kelulusan? there's no body who's wanna that. Tidak ada yang ingin menunda-nunda jika memang lebih baik disegerakan, karena sesuatu yang baik itu memang harunya disegerakan,. Tetapi kita juga tidak bisa menyalahi tahdir Tuhan yang telah mengatur segalanya.

"Tidak ada yang dapat menolak TAKDIR kecuali DIA" (HR.Ahmad, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)


Jumat, 10 April 2015

something trivial.. .


 1. Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan suasana mawaddah dan rahmah. (Ar-Rum: 21)
 2. Hendaknya saling mempercayai dan memahami sifat masing-masing pasangannya.
 (An-Nisa’: 19 -  Al-Hujuraat: 10)
 3. Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang harmonis. (An-Nisa’: 19)
4. Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan. (Muttafaqun Alaih)
  

Dalam sebuah pernikahan, idealnya kita dapat menerapkan ke-empat point diatas. Namun, tidak sedikit juga yang masih kesulitan dalam menjalani semua point itu. Termasuk dengan saya bersama suami, point nomer 2 masih sulit untuk kami aplikasikan. 

Pernikahan kami baru seujung kuku, belum ada apa-apanya. Baru hendak memasuki usia 3 bulan. Tapi tak dipungkiri bahwa untuk mempercayai dan memahami sifat masing-masing kami masih mengalami kesulitan. Mungkin tingkat ego yang masih sama-sama tinggi. Mengingat usia saya dan suami juga setara, hanya berbeda beberapa bulan saja. 

Sebelum menikah, saya sempat ragu untuk mengambil keputusan ini. Bukan ragu terhadap calon suami, tetapi ragu untuk diri saya sendiri. Mengingat saya adalah tipikal perempuan yang susah diatur, bebal, keras kepala dan masih banyak sikap dan sifat kurang baik lainnya. Saya ragu bahwa saya nanti akan masih membawa sifat buruk saya itu didalam pernikahan.  Ditambah dengan hubungan pertemanan saya dengan banyak laki-laki. Secara sekolah di STM dan kebanyak teman adalah lelaki, juga teman-teman ekskul yang sudah dianggap sebagai saudara sendiri membuat saya terkadang kehilangan kontrol dalam bersikap. 

Menjelang 3 bulan pernikahan, saya banyak sekali belajar. Saya beruntung diperistri oleh lelaki yang begitu mencintai dan menyayangi saya tanpa alasan apapun. Saya banyak belajar darinya, semua tentang kebaikan. Namun masih ada yang belum bisa saya terima dari diri suami saya, tentang apabila dia marah dia selalu mendiamkan saya. Saya tidak suka caranya yang seperti itu. Saya belum bisa dan belum biasa dengan perlakuan seperti yang dilakukan dia terhadap saya ketika sedang marah. Saya tau, ada hal-hal yang saya lakukan sehingga dia bersikap begitu. Sampai pada beberapa hari yang lalu kami bertengkar. Tentu, pada mulanya dia hanya mendiamkan saya. Saya yang pada dasarnya terlalu apatis dan tidak selalu menyadari apa kesalahan yang diperbuat berbalik marah padanya. Saya masih belum terima kalau kejadian seperti ini akan sering berulang. Belakangan saya tahu, bahwa ini adalah cara  ang tepat yang dia lakukan untuk meluapkan kekesalan. Bahwa diam adalah cara lebih baik dibandingkan harus marah dan berkata kasar.

Saya selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik. Mencoba bangun lebih awal dari sang suami yang masih pulas dalam tidurnya. Menyiapkan sarapan pagi, makan siang juga makan malam. Berusaha untuk tidak membiarkan cucian menumpuk dan membersihkan rumah pada pagi atau sore hari. Membuatkan masakan kesukaan suami, juga mencoba membuat masakan-masakan yang sebelumnya saya tidak bisa. Tapi ada yang saya lupa, bahwa menjadi seorang istri bukan hanya untuk memasak, mencuci atau membersihkan rumah saja. Lebih dari itu, istri yang baik adalah yang bisa menjaga amanah suaminya. 

Hal sepele, namun jika didiamkan akan menjadi masalah besar. Begitulah yang sering dikatakan oleh kakang, suami saya. Beberapa hari yang lalu saya kedapatan berbincang dengan seorang teman lelaki melalui pesan singkat. Hanya percakapan sederhana dan tidak bermaksud apapun. Teman yang sudah saya anggap sebagai saudara sendiri, teman yang saya pikir tidak akan menjadi soal ketika saya berbincang dengannya meski hanya melalu pesan singkat. Dan ternyata saya salah, akan berbeda ketika kita sudah menjadi istri seseorang. Banyak yang harus dibatasi meskipun hanya sekedar pesan singkat. "Kalau cuman yang dipikirin masak, nyuci, beresin rumah, aa juga bisa, gak perlu ngandelin istri, tugas istri bukan hanya sekedar itu,  tapi soal ini",  Kakang menunjuk dadanya. Jleb, kalimatnya membuat saya merenung. "ada perasaan yang harus dijaga, meskiipun cuman ngobrol biasa. aa sayang, makanya aa marah, aa gak mau nantinya ada timbul fitnah" Masya allah, saya bahkan belum berfikir sampai sejauh itu. Aa maaf, Allah maaf untuk kekhilafan ini.

Banyak hal-hal yang mungkin disepelekan, tapi akan berdampak buruk  jika terus dibiarkan. Dari kejadian ini saya menyadari beberapa hal. Bahwa ternyata diamnya seseorang yang sedang marah itu bukan hanya sekedar mendiamkan. Tapi lebih kepada menjaga agar tidak usahlah memulai pertengkaran, membentak bahkan sampai mengeluarkan kata kasar. Nanti jika suasana mulai dingin, semua akan bisa dibicarakan. Juga, tentang amanah yang diberikan suami untuk menjaga. Menjaga harga diri, menjaga aurat serta kemaluan, menjaga kehormatan dan yang pasti adalah menjaga hati pasangan.

Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan pelajaran untuk yang belum, yang akan, dan yang sudah menjalani pernikahan. Semoga kita senantiasa selalu dilindungi dari sifat dan sikap tercela. Semoga senantiasa kita dijauhkan dari segala fitnah di dunia juga di akhirat. Menjadi pribadi yang dari ke hari semakin dan semakin lebih baik. 


Hamasah!!!!!! Innallaha ma'ana :)




Sabtu, 28 Maret 2015

My Little Angel





Hal yang dinantikan setelah menikah tentu saja adalah mempunyai keturunan. Setiap perempuan, akan merasa menjadi wanita seutuhnya ketika mereka telah melahirkan seorang bayi dan menjadi Ibu. Begitu juga dengan saya. Setelah menikah, saya dan suami sepakat untuk tidak menunda mempunyai momongan. Biarlah kami pasrahkan semuanya kepada yang Maha Pemberi. Bila secepatnya dikasih, kami sangat bersyukur sekali. Dan jika belum, mungkin memang belum waktunya.

Memasuki bulan kedua pernikahan, Kakang sempet nanya sehabis melihat kalender, "Belum dapet lagi ya?". Saya jawab belum. Setelah menikah, Kakang yang rajin melihat kalendar untuk menghitung jadwal menstruasi saya. "Periksa yuk", ajaknya kepada saya. Tetapi saya menolak, terlalu dini untuk memeriksakan diri hanya sekedar untuk mengetahui apakah saya terlambat datang bulan karena hamil. Saya meminta untuk menunggu sampai minggu depan.

Hari Sabtu, tanggal 21 Maret 2015
Ketika Kakang belum pulang karena shift malam,  pagi-pagi sekali saya sudah merencanakan untuk  mengecek air kencing pertama saya dengan testpack. Dengan tangan sedikit gemetar dan perasaan yang campur aduk, garis dua muncul pada strip testpack yang saya pegang. Alhamdulillah, terima kasih Allah.

Sekitar pukul 10 pagi kakang sampai dirumah kontrakan kami. Sedikit berbincang sebentar lalu saya tersenyum sambil berbisik "aku tadi pagi udah testpack, hasilnya garis dua", saya melihat senyum bahagia diwajahnya. Senyum yang hampir belum pernah saya lihat sebelumnya. Ya, tentu saja dia sangat bahagia mengetahui ini. Tak henti dia mencium dan mengelus perut saya sembari berkata "Aa seneng banget".

Minggu, 22 Maret 2015
Sore hari kami pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan kandungan saya. Alhamdulillah ternyata sudah memasuki minggu ke 5. Dokter hanya memberikan saya vitamin karena tidak ada keluhan-keluhan yang berarti dari diri saya.

Seperti biasa, saya berangkat bekerja, memasak, menyiapkan keperluan suami. Hanya saja sekarang kami membagi dua pekerjaan rumah, seperti mencuci pakaian dan mencuci piring menjadi tugas suami sekarang. Katanya saya jangan terlalu capek.

Saya bersyukur selama memasuki kehamilan 5 minggu ini tidak banyak yang saya keluhkan. Seperti mual, muntah, ataupun tidak mau makan. Semuanya saya rasa masih normal. Saya masih mau makan nasi. Kalau pagi saya tidak pernah mual dan muntah. Dan saya rasa itu wajar, katena menurut artikel yang saya baca tingkat hormon setiap perempuan itu berbeda, dan kondisi hamilnya pun akan berbeda, tidak akan ada yang sama, itu uniknya perempuan hamil.Namun beberapa hari saya mengeluhkan kalau perut saya sering keram. Sakit seperti akan datang bulan.

Rabu 25 Maret 2015
Hari itu saya tidak masuk kerja, kepala saya sakit sehingga saya memutuskan untuk beristirahat dirumah. Saat itu kakang masuk shif siang. Sekitar pukul 11 siang saya ke kamar mandi untuk buang air kecil, betapa kagetnya saya ketika terdapat bercak darah pada urin saya. Saya berteriak memanggil kakang, dan dia meminta saya untuk tetap tenang. Saya sempat tidur siang setelah itu, namun pada saat saya buang air kecil lagi, bercak darah itu muncul lagi sehingga membuat saya panik. Saya meminta Kakang untuk tidak masuk kerja dan menemani saya dirumah. Malam hari kami pergi ke Rumah Sakit untuk memeriksakan kandungan saya.

Dokter bilang, seharusnya tidak ada keluar darah ketika hamil muda. Ini ada ancaman keguguran sehingga beliau memberikan kami resep obat penguat kandungan. Setibanya dirumah, saya langsung menangis sejadinya. Saya begitu takut terjadi sesuatu dengan calon buah hati kami. Kakang berusaha menenangkan namun tangis saya malah semakin menjadi hingga akhirnya saya tertidur.

Kamis, 26 Maret 2015
Saya masih belum masuk bekerja. Dokter memberi saya waktu untuk istirahat 3 hari dan hanya istirahat dirumah, bedrrest. Saya hanya berbaring di tempat tidur sementara kakang menyiapkan segalanya. Mulai dari sarapan, minum obat sampai memasak.
Kala itu saya sempat berdoa, "Allah, berikan yang terbaik untuk kami. Selamatkan janin yang ada dirahimku bila kelak ia akan tumbuh dengan baik. Bila tidak, silahkan diambil kembali. Engkau yang memberi, padaMu juga dia kembali". Saat itu saya merasakan sakit sekali di perut saya, keram yang melebihi saat menstruasi. Kemudian saya ke kamar mandi untuk buang air kecil,  Betapa kagetnya saya ketika keluar gumpalan-gumpalan darah seperti hati. Allah :(

Saya pasrah, saya marah, menangis, terlebih kecewa terhadap diri saya sendiri karena merasa gagal menjaga si calon buah hati.  Sore hari saya sudah mulai tenang. Kami bergegas menuju Rumah Sakit untuk memeriksakan kembali, memastikan bahwa si jabang bayi masih ada atau tidak. "Apapun hasilnya nanti, terimain ya, ikhlas, ini yang terbaik. Aa tau kamu kuat" ucap Kakang pada saya. Saya hanya mengangguk.
Saya sudah cukup tenang saat memasuki ruangan Dokter. Ketika di USG, jabang bayi sudah tidak terlihat. Dokter menyarankan untuk saya tespek ulang. Dan ternyata hasilnya negatif.

Banyak hal saya dapatkan dengan kejadian ini. Dibalik perasaan kehilangan yang amat mendalam, saya belajar tentang keikhlasan. Ini yang terbaik yang Allah berikan kepada kami. Toh tidak ada yang terjadi secara kebetulan, semua berjalan sesuai alurNya.

dear my beloved baby.. .
Hai sayang, dd lagi apa sekarang? pasti sekarang udah ada di tempat terindah. Segala kebutuhan dd pasti terpenuhi disana. Bunda seneng banget waktu tau dd ada diperut Bunda selama 5minggu. Bunda selalu berdoa biar dd sehat, karena kita bakalan berjuang 8bulan kedepan. Tapi Allah lebih sayang sama dd. Allah ambil lagi dd dari perut bunda.  Ayah sama Bunda ikhlas nak, semuanya buat kebaikan kita. Dd yang baik disana ya, jangan buat Allah dan malaikat kesel. Dd nanti jemput bunda sama ayah ya kesana kalau udah waktunya. Ayah sama bunda sayang banget sama dd :*

Senin, 02 Februari 2015

And now our story begin.. .

sebelas januari bertemumenjalani kisah cinta ininaluri berkata engkaulah milikku0

Yap, tanggal sebelas januari 2015 adalah hari yang sangat bersejarah bagi saya. Dimana seorang laki-laki pilihan telah mengucapkan Ijabnya, dimana pada hari itu saya dan dia dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan. 
Terhitung dari tulisan ini dibuat, berarti sudah 23 hari saya menjadi seorang istri. Seorang istri dari laki-laki yang ternyata sudah saya kenal selama lebih dari 10 tahun. Siapa yang menyangka bahwa surat cinta monyet yang pernah dia buat untuk saya pada saat kami sama-sama menginjakkan kaki di bangku sekolah menengah pertama (SMP) itu akan mengantarkan kami pada sebuah ikatan yang sakral, pernikahan.

Banyak yang tidak menyangka bahwa kami berdua menikah. Tentu, jangankan orang lain, sayapun sama tidak menyangka. Tidak pernah terpikir sedikitpun bahwa saya akan menjalani hubungan serius dengan lelaki ini. Lelaki yang selama 10 tahun saya kenal sebagai teman, sebagai sahabat. (Gimana gak bisa sahabatan, orang dari SMP sampe STM aja sekelas. bahkan waktu TK pun kita barengan cuman beda kelas aja  hehe)

Pernikahan adalah impian setiap perempuan. Dipersuting lelaki idaman adalah harapan. Begitu juga dengan saya. Saya yang selalu ngiler tiap kali mendapatkan wedding invitation dari teman, dan berfikir "giliran gue kapan yak". Sempat menjalani hubungan dengan seseorang menyebabkan saya memutuskan untuk menutup diri dari "pacaran". Trauma? enggak juga sih, tapi lebih kepada menyadari bahwa ternyata hal semacam itu tidak berdampak baik untuk saya. Hingga akhirnya kalimat inipun muncul "Allah, aku gak mau pacaran lagi, kalau ada cowok yang suka sama aku suruh aja datengin Bapak". Itulah kalimat yang selalu saya ucapkan selepas shalat.

Hingga pada akhirnya disuatu malam, Allah menjawab doa saya.  Melalui pesan singkat blackberry messanger, lelaki itu menyatakan maksudnya terhadap saya. pesan singkat yang saya tanggapi hanya dengan senyum ketawa-ketiwi dengan nada bercanda. Pesan singkat yang ternyata mengantarkan hati saya pada keyakinan bahwa dia adalah lelaki yang dipilih oleh Allah untuk melengkapi saya.
Yap, lelaki itu adalah Muhamad Reza Fahru Nazar. Lelaki yang sdah saya kenal semenjak kami sama-sama menduduki bangku SMP. Yang ternyata kemudian masih dipertemukan lagi ketika menduduki bangku STM. 3 tahun di SMP, dan  4 tahun di STM, membuat saya mengenali sosoknya sebagai lelaki yang begitu baik. Selama itu pula kami bahkan saling bercerita tentang orang-orang yang kami kagumi masing-masing. Tapi ternyata rencana Allah itu lain, kamilah yang ternyata dipersatukan untuk saling mengisi cerita di kemudian hari.

Sungguh, tak ada kalimat "mau jadi pacaar aku", atau "aku suka sama kamu", yang ada hanyalah "aku memilihmu untuk menjadi istri, untuk menjadi ibu dari anak-anakku kelak". You can imagine? ketika seorang wanita mendapatkan kalimat seperti itu dari seorang lelaki, mungkinkah hanya bercanda? Ketika itu pula saya memintanya untuk bertemu dengan kedua orangtua saya, dan dia menyanggupi. Allah, jodoh itu begitu dekat ternyata :)

Tidak lama dari pesan singkat itu, dia akhirnya menemui orangtua saya dan menyampaikan maksudnya. Tanggapan orangtua sayapun baik, menyerahkan semua kepada saya. (waktu itu masih gak nyangka ada yang ngajakin nikah).
Agustus 2014, dia datang bersama keluarganya untuk melamar saya. Lalu kemudian ditentukanlah waktu akad nikah pada bulan Januari.
Semuanya berjalan dengan lancar, begitu alami, dan diberikan kemudahan. Sampai pada waktunya tanggal 11 Januari 2015 kalimat itu terdengar dengan jelas,
"saya terima nikahnya dan kawinnya Diyana Rizma Rumanggit binti Gegen Rahardjo dengan maskawin tersebut tunai", alhamdulillah saya telah sah menjadi seorang istri.

Benar, tidak ada sesuatu yang lebih indah daripada dua orang yang saling mencintai selain pernikahan. Semua terasa berbeda. Hari itu, kami dipersatukan menjadi suami istri. Hari itu, saya terlepas dari tanggungan orang tua saya. Mulai hari itu, saya benar-benar merasa menjadi wanita yang berbahagia. Alhamdulillah, Alah terima kasih, maka NikmatMu yang manakah yang akan aku dustakan?

Terhitung mulai dari hari itu, kami sama-sama belajar. Belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Belajar untuk saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Belajar untuk selalu memperbaiki diri. Tidak ada yang tidak membahagiakan ketika kita memasrahkan dan mempercayakan semuanya kepada Allah.



dear beloved husband.. .
Hai a, aa pasti baca tulisan ini (soalnya pasti aku upload di sosmed hehe). Aku gak tau harus mulai dari mana, tapi yang pasti aku mau bilang makasih banyak ke aa. Makasih untuk semua yang udah aa lakuin buat aku, buat keluarga aku, buat nunjukin ke Ibu dan Bapak kalau aa bener-bener serius mau jagain aku. Makasih untuk semua perhatian, pengertian, dan kasih sayang yang sampe saat ini aku gak pernah ngerasa kurang. Makasih udah jadi sosok yang selalu mengagumkan setiap harinya. Menjadi sosok yang ketika aku lagi bareng-bareng sama aa gak mau berakhir. Maaf kalau belum bisa jadi istri yang diharepin, tapi aku bakalan selalu berusaha buat jadi istri yang baik, buat jadi ISIS kayak yang aa mau, (istri solehah idaman suami). Banyak hal yang aku dapet dari aa, banyak hal yang bisa aku pelajarin setiap harinya. Jangan bosen buat selalu ngingetin aku dalam kebaikan, jangan bosen bimbing dan nasehatin aku ketika aku ngeyel. Makasih banyak udah mau nerima kekurangan sama kelebihan aku. Kita sama-sama belajar buat jadi pribadi yang lebih baik kedepannya, jadi pribadi yang makin hari makin deket sama Allah. Mudah-mudahan kita cepet dikasih dede ya a hehe aamiin. Semoga Allah selalu kasih rahmatnya buat pernikahan kita, semoga kita bisa jadi keluarga sakinah mawadah warahmah, dilimpahin rezeki yang cukup, yang berkah, dan selalu dikelilingi kebahagiaan aamiin.

your beloved wife,
bibilung :*
and now our story begin


Rabu, 27 Agustus 2014

Tentang Dia "One Petualang"


Akhirnya harus nulis juga tentang orang ini. Orang yang udah kurang lebih tujuh tahun jadi bagian di hidup saya. Yaaakkkk, Hilwan. Namanya Hilwan El Farhana. kebanyakan temen-temen dia manggil Purwa karena dia berasal dari Purwakarta haha. Banyak juga yang manggil dia abang, karena emang udah jadi sosok abang. Dan gak sedikit juga yang manggil dia Hilwan karena emang itu namanya. Dan saya, sebagai salah satu dari adek-adek an dia yang ada di muka bumi ini saya lebih memilih untuk memanggil dia "kakak".

Berawal dari mengikuti organisasi Pecinta Alam di sekolah saya mengenal sosok kak Hilwan ini. Sosok yang pada mulanya sangat saya benci karena termasuk orang menyebalkan di ekstrakulikuler. Tapi entah bagaimana caranya hingga saat ini saya dan dia menjadi sangat dekat. Yang katanya di sebuah organisasi kakak kelas tidak boleh dekat dengan adik kelas itu ternyata kami langgar haha. Tapi masih dalam batas wajar, kedekatan kami sebatas kakak dan adik yang saling support dan mendukung satu sama lain.


Time flies, sudah tujuh tahun ini seorang Hilwan telah menjadi bagian di hidup saya. Dan memang kenyataannya sampai sekarang hubungan kami sewajarnya seperti kakak dan adik. Saling bercerita, bertukar pikiran, berkeluh kesah, juga bercanda tawa. Lucu nya kami tidak pernah sepaham. Mungkin itu yang menjadikan kami selalu beradu argumen untuk hal apapun. Tetapi justru disitu seninya, apapun yang kita perdebatkan malah membuat kami semakin saling mengenal. Biarlah, kamu tetap pada pemikiranmu dan aku tetap pada pemikiranku.

Tahun 2008, pertama kali kami melakukan perjalanan bersama (tentunya selain dari pendidikan organisasi). Gunung Cikuray menjadi pilihan kami pada saat itu. Hanya berbekalkan uang dua puluh ribu rupiah dan mie instan 2 bungkus kak Hilwan sudah menjamin untuk perjalanan kami saat itu. Itulah perjalanan pertama saya dengan dia, yang ternyata menjadi pintu perjalanan-perjalanan selanjutnya.

ini gak tau deh kenapa gambarnya kebolak gitu, maap dulu masih belum pake jilbab, Cikuray 2008

Ditahun yang sama saya melakukan Ekspedisi ke Pegunungan Malabar dikawasan Pangalengan. Kak Hilwan memilih untuk menjadi pendamping kelompok saya saat itu. Sempat menjadi perbincangan karena kenapa kelompok saya yang dia pilih, karena pada saat itu ternyata kak Hilwan menjalin hubungan bersama teman seangkatan saya (oke lupakan itu hanya masa lalu). Meskipun kami dekat, kami selalu kondisional kok. Dalam organisasi ya kami adalah senior dan junior. ahh, dan lagi saya selalu tidak senang dengan sikapnya yang selalu senioritas itu, menyebalkan sekali.
puncak burangrang tahun 2008

puncak burangrang tahun 2009
puncak burangrang tahun 2012


Tahun-tahun berikutnya tidak banyak perjalanan yang kami lakukan. Karena pada saat itu kami masih berstatus sebagai pelajar yang tidak memiliki banyak kesempatan untuk melakukan perjalanan diluar kegiatan rutin organisasi. Sampai saat dimana saya menginjak tahun ke-empat di sekolah dan sedang melakunan Praktek Kerja Lapangan diluar kota kami baru memulai lagi perjalanan, saat itu kak Hilwan sudah lulus dari STM. Mungkin tepatnya pada awal tahun 2011 kami melakukan perjalanan ke Gunung Gede Pangrango di daerah Bogor. Dimulai sejak saat itu, kemanapun saya dan kak Hilwan selalu melalukan pendakian bersama.
TNGGP tahun 2011


TNGGP tahun 2012
cikuray tahun 2013

pangrango 2013
Tidak banyak memang gunung yang kami daki, hanya sekitaran Jawa Barat saja. Tapi bukan sebanyak apa gunung yang kami daki, tetapi kebersamaan kami disetiap kali mendaki. Hilwan sudah tahu persis seperti apa perangai saya. Manja nya saya ketika bersama dia, baik dan buruknya mungkin dia sudah lebih mengerti. Begitu juga dengan sikap dan sifat dia, kurang lebih saya sudah paham itu. Saya adalah orang yang selalu tidak setuju dengan statement dia, juga adalah orang yang paling tidak menurut dengan segala nasehatnya. Tapi dia begitu sabar menghadapi saya. Menjadi penyemangat ketika saya mulai down, menjadi penuntun saya ketika saya mulai terjatuh. Pernah suatu waktu ketika kami melakukan pendakian ke Gunung Rinjani, saya menjadi sosok yang sangat menyebalkan saat itu. Tetapi kak Hilwan dengan sabar menemani saya mendaki, sampai akhirnya dia tidak menuju puncak anjani hanya karena saya juga gak nyampe ekekekekek (maapin aku ya nanti kita kesana lagi harus sampe puncak).
Rinjani tahun 2014

Papandayan 2014


Selama ini, sosok kak Hilwan yang selalu menjadi bodyguard untuk saya. Menemani, melindungi, menjaga, juga mensponsori segala keperluan saya hahahha (ini lebay sih). Yang pasti dia itu baik sekali, sungguh deh suer. Cuman ya gitu deh, tukang gonta-ganti cewek hahah. Ini yang saya kurang suka. Saking baiknya dia terhadap perempuan, jadi sok-sok an gampang banget deketin cewek ppfffttttttt. Juga untuk masalah yang satu ini saya selalu tidak sependapat dengannya. Kadang, kalau kenal cewek dia suka nanya dulu "de si ini gimana, si itu gimana", tapi giliran dikasih masukan gak pernah tuh sepaham (emang saruana deng kita mah) hahahhahah

Waktu berlalu, kami beranjak dewasa. Menjadi pribadi masing-masing dengan segala kekurangan dan kelebihan. Mungkin sekarang sudah saatnya saya dan kak Hilwan mencari partner baru untuk melakukan perjalanan. Entahlah, saya hanya berpikir untuk memberikan jarak dan waktu untuk masing-masing dari kami melakukan perjalanan dengan si (calon) partner hidup. Sudah waktunya orang yang selalu menemani saya mendaki itu berganti, bukan Hilwan terus. Juga sebaliknya, orang yang membuntuti setiap perjalanan kak Hilwan bukan saya lagi, tapi si eneng ya kak ? heheheheh

dari masa ke masa


Dari sini saya sadar, bahwa saudara itu bukan berarti harus sedarah. Bukan berarti harus lahir dari ibu yang sama. Tetapi saudara itu ya kita. Saya dan dia, saya dan kamu, saya dan kalian , juga saya dan mereka yang hidup bersama dengan segala kegilaan yang pernah dilakukan. Makan dipiring yang sama, tidur di alas yang sama, juga yang penting adalah tertawa juga berbagi duka bersama. hehe

dear kakak item.. .
hey you! so many time we spent together.. .
thanks for everything. for your time, for your money haha
thanks for taking care of me, guiding me, protect me, thanks for everything you do.
thanks for being best partner ever, thanks for being a good brother.
dulu aku selalu manyun kalau kamu pergi dan aku gak diajak, sekarang sok mau kemanapun juga ama si nengnya, aku gakan ngebuntutin wkwk
someday, we should make a family journey yaakkk, kemping ceria gitu deh dipadang edelweis hehe
petualangan kita gak berenti sampe disini, cuman kasih waktu dan jarak aja biar kita bisa bertualang bareng (calon0 partner hidup masing-masing.
sedih gak sih kak? engga kan?
jalan kan masih panjang ia gak hehe

your little sister with love
~nduy~


Kamis, 10 Juli 2014

22 years old.. .

happy birthday diyanaaa.. .

selamat ulangtahun gajaaahhhhh.. .

Yaaakkkkkk syukur alhamdulillah saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan saya kesempatan untuk bernafas hingga usia sekarang. Hari ini, tepat tanggal 10 Juli, merupakan hari kelahiran saya. Hari dimana seorang Ibu bernama Rina Rusmiati telah  melahirkan putri pertamanya yang diberi nama Diyana Rizma Rumanggit. Berharap kelak putrinya menjadi seorang wanita yang berlimpah rezeki dan menjadi orang bermanfaat dimuka bumi ini.

Terima kasih untuk Ibu, yang dengan perjuangannya telah melahirkan saya. Perjuangan antara hidup dan mati demi melahirkan saya ke dunia ini. Terima kasih telah membesarkan saya hingga sekarang. Memberikan cinta kasih tiada henti kepada saya hingga saya sebesar ini. Maaf belum bisa kasih apa-apa ke ibu. Maaf untuk setiap tetes air mata yang jatuh kala Ibu berdoa. Suatu hari nanti pasti tetesan airmata itu akan terbayar dengan kebahagiaan Ibu.

Hari ini, 10 Juli 2014, genap usia saya 22 tahun. Sedih, juga bahagia. Sedih karena jatah usia yang Allah berikan kepada saya telah berkurang. Bahagia untuk segala sesuatu yang telah saya terima, saya rasakan, dan saya dapatkan hingga usia ke 22 ini.

Tepat dihari ini, 22 tahun sudah saya hidup didunia. Menjadi seorang Diyana dengan segala kelebihan dan tentu banyak kurangnya. Seorang Diyana yang lebih banyak berbuat salah dibanding baiknya (mungkin). Diyana yang judes, bawel, jutek (katanya), padahal kalau sudah kenal mungkin saya adalah tipikal orang yang menyenangkan (ngebela diri). Banyak hal yang harus saya perbaiki menginjak usia yang sudah tidak muda lagi. Banyak hal positif yang harus saya lakukan agar hidup saya lebih bermanfaat.

Hari ini, di usia yang ke 22, tidak ada yang lebih spesial daripada doa yang dipanjatkan kedua orangtua saya. Tidak ada yang lebih spesial daripada sebuah kejutan dan tiup lilin dari teman-teman satu kost tadi malam. Terimakasih.. .
Add caption


Hari ini, di usia yang ke 22, tidak begitu banyak ucapan selamat dan juga permintaan traktir seperti tahun-tahun sebelumnya. Entahlah, saya lebih merasa senang ketika sosial media belum terlalu melekat kepada manusia. Dimana ucapan selamat ulangtahun dan doa bisa disampaikan secara personal dengan pesan text dibandingkan hanya sekedar loved pada sebuah foto, hehe. Ketika ucapan selamat dan doa diucapkan secara personal lewat suara ditelpon dibandingkan hanya lewat berbagai macam emoticon.. Baiklah, saya harus menerima kenyataan bahwa kehidupan sekarang sudah berbeda.. .
Terimakasih atas ucapan selamat kalian yang diberikan secara personal untuk saya, senang sekali rasanya membaca ulang setiap kalimatnya.. .

Hari ini, di usia yang ke 22, tidak banyak yang saya harapkan. Selain dari keinginan untuk tetap bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah, lebih banyak beribadah, lebih banyak traveling, main, naik gunung, ahahahha
aamiinkan saja :)

Hari ini, di usia saya yang ke 22, terima kasih untuk doa yang teman-teman, sahabat, saudara sekalian panjatkan untuk saya. Semoga Allah satu persatu mengabulkan dan membalas kebaikan kalian semua.

"menjadi tua itu pasti, tetapi menjadi dewasa itu adalah sebuah pilihan",  semoga saya bisa lebih bijak dalam bersikap dan menjalani hidup.

regards,
diyana